Renungan harian 24 November 2013-Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam

Minggu, 24 November 2013
Pekan Biasa XXXIV – HR Kristus Raja Semesta Alam (P)
St. Andreas Dung Lac, Im.dkk.Mrt. Vietnam
St. Krisogonus; St. Vinsensius Liem; St. Ignasius Delgado;
St. Dominikus An-Kham
Bacaan I: 2Sam. 5:1–3
Mazmur: 122:1–2.4–5; R:1
Bacaan II: Kol. 1:12–20
Bacaan Injil: Luk. 23:35–43

Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin meng ejek Dia, katanya: ”Orang lain Ia selamat kan, biarlah sekarang Ia menyelamat kan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: ”Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: ”Inilah raja orang Yahudi”. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: ”Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: ”Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.” Lalu ia berkata: ”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

Renungan
Hari ini kita merayakan Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam. Menurut Kalender Liturgi, inilah akhir dari tahun liturgi kita dan minggu berikutnya kita akan memulai tahun liturgi yang baru dimulai dengan Minggu Adven I.

Secara manusiawi, yang namanya raja selalu berkuasa, menang, memiliki banyak pasukan, dan bisa melakukan apa pun. Akan tetapi, ironis sekali bahwa kita merayakan Hari Raya Kristus sebagai Raja Semesta Alam justru dihadapkan dengan kisah Yesus yang dimahkotai duri di kayu salib dan diolok-olok. Kematian di kayu salib adalah kematian yang konyol dan rendah. Semua pihak mengolok-olok: ”orang lain ia selamatkan, biarlah Ia menyelamatkan dirinya sendiri!” Yesus tampak sebagai raja yang tak berdaya.

Namun, pada bagian akhir hidup-Nya, Yesus justru menganugerahkan suatu karunia yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun. Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang luar biasa, yaitu Ia menganugerahkan Kerajaan Surga kepada penjahat di sebelah kanan yang mau bertobat dan menyembah-Nya.

Pada momen inilah mari kita merenungkan bahwa secara duniawi tampaknya hidup Yesus kalah oleh kekuatan-kekuatan jahat yang sejak awal karyanya mengincar diri-Nya. Kehadiran Yesus ke dunia ini bukan untuk membangun suatu kesuksesan, kemakmuran dan kekuasaan dunia. Ia ingin mengajak kita masuk dalam Kerajaan-Nya bersama Bapa. Maka, kalau kita sering mengeluh tentang betapa beratnya salib hidup kita di dunia, mari kita tengok salib Tuhan kita. Ia telah lebih awal menjalani salib itu. Yang Tuhan janjikan bukan kemuliaan duniawi, namun kemuliaan surgawi.

Tuhan, bantulah aku memanggul salib kehidupanku agar aku bisa menerima rahmat Kerajaan Surga sebagaimana Kauanugerahkan kepada penjahat yang bertobat itu. Amin. Sumber : Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: