Renungan Minggu 24 November 2013 – Hanya KRISTUS yang berkuasa menebus hidup manusia dari kematian dan sekaligus mengampuni dosa

Romo SutoRaja Daud, lambang Kristus, sebagai raja Yehuda diangkat oleh seluruh bangsa Israel menjadi raja Israel juga; hal itu juga melambangkan Kristus yang menguasai segala yang ada (Bacaan pertama, 2Sam.5:1-3). Oleh pengampunan dan penebusan-Nya Kristus adalah yang sulung bagi manusia, yang dipindahkan-Nya dari kuasa kegelapan ke dalam Kerajaan-Nya, memperdamaikan segalanya dengan diri-Nya, karena seluruh kepenuhan Allah ada pada-Nya (Bacaan kedua, Kol.1:12-20). Maka tepatlah bila penjahat, yang disalibkan bersama Dia, menyaksikan sikap-Nya selama menderita, menjadi percaya kepada-Nya, yang Ia sambut dengan menerima dia masuk ke dalam kerajaan-Nya bersama dengan-Nya saat itu juga (Bacaan Injil, Luk.23:35-43).

Kematian Kristus di salib bukan karena Ia dibunuh, melainkan karena Ia dengan rela menyerahkan hidup insani-Nya kepada Bapa, karena Ia berkuasa penuh atas hidup (bdk. Yoh.11:25). Keadaan tubuh-Nya, yang dianiaya sampai mengalami luka-luka ribuan banyaknya, bagi manusia yang tidak berkuasa atas hidup, pasti sudah mati jauh sebelum mencapai Golgota dan disalibkan. Dari sisi lain sikap-Nya dalam menerima kesengsaraan itu sungguh menyelamatkan orang lain. Maka juga menjadi teladan bagi kita, menerima penderitaan dengan ikhlas bersama Kristus itu akan menuntunnya ke keselamatan.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini mengingatkan kita, bahwa sebagai pribadi, manusia harus tahu diri dan tahu tanggung jawab. Sebab hanya orang yang tahu diri dan tahu tanggung jawab yang rela menerima dengan ikhlas konsekuensi perbuatannya. Karena penderitaan itu masuk ke dunia ini akibat dosa manusia sendiri, baik penderitaan lahiriah maupun batiniah, manusia harus mau menerima akibat dosanya sendiri itu. Lebih-lebih lagi, bila kita percaya, bila menerima dengan ikhlas penderitaan itu merupakan persembahan untuk menerima pengampunan dosanya dan penebusan hidupnya, bila disatukan dengan penderitaan Kristus. “Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah”. Lalu ia berkata : “Yesus, ingatlah akan daku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Kata Yesus kepadanya : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama Aku di Firdaus”. Pribadi Kristus adalah Pribadi Allah Putera, Pribadi kedua Allah Tritunggal. Maka sebagai Manusia Kristus adalah gambar Allah yang sempurna, artinya apa pun yang dilakukan-Nya menggambarkan Allah. “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Baik yang di bumi maupun yang di angkasa diperdamaikan dengan darah Kristus yang tersalib”. ‘Diperdamaikan dengan darah Dia’ berarti kita diselamatkan, hidup insani kita dipersatukan dengan hidup ilahi Kristus, sehingga tubuh jasmani kita beserta dengan dorongannya berada dalam kuasa-Nya, dimuliakan dalam kemuliaan kebangkitan-Nya. Yang sangat mengagumkan kita ialah bahwa akibat dosa yang merusak diri kita, sehingga menyakitkan, sekurang-kurangnya dirasakan tidak menyenangkan, oleh Kristus dijadikan bukan hanya sebagai tanda tahu diri dan tahu tanggung-jawab, tetapi juga dijadikan sebagai jalan kepada keselamatan. Karena itulah dengan tegas Kristus menyatakan, selama di dunia ini : “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mt.16:24). Kristus yang tersalib akan menyempurnakan penyangkalan diri dan penderitaan itu dalam darah-Nya, menjadi tanda pengampunan dosa dan penebusan hidup manusia yang telah kehilangan keabadiannya itu.
Kuasa Kristus yang penuh atas segala ciptaan yang ada, sekalipun telah tercemar dosa manusia, tetapi kemudian dicuci-Nya dengan darah-Nya, dilambangkan oleh pengangkatan Daud, raja Yehuda, sebagai raja Israel pula. “Dan Tuhan telah berfirman kepadamu : Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel”.

Sadarkah kita bahwa Kristus adalah Penguasa hidup, yang dengan darah-Nya Ia menyatukan segala sesuatu dengan diri-Nya, menyucikannya dan mengembalikannya ke dalam kuasa Allah Bapa?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: