Renungan harian 12 November 2013- ” Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Selasa, 12 November 2013
Pekan Biasa XXXII
Pw St. Yosafat Kunzewich, Usk Mrt. (M)
St. Nilus dr Sinai; St. Theodorus Studit

Bacaan I : Keb. 2:23–3:9
Mazmur : 34:2–3,16–17, 18–19
Bacaan Injil : Luk. 17:7–10

”Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Renungan

Kerendahan hati merupakan suatu keutamaan hidup yang sepintas lalu gampang diucapkan, namun dalam praktiknya betapa susah dilaksanakan. Apalagi di tengah zaman di mana setiap manusia dipacu untuk bersaing mengalahkan satu sama lain. Di sekolah murid-murid dipacu dengan sistem ranking. Di kantor, para pegawai dipacu untuk menunjukkan performa terbaik demi kenaikan jabatan dan gaji. Demikian juga di masyarakat, ada banyak jabatan diperebutkan demi kepentingan tertentu.
Betapa susah untuk menghayati nasihat Injil hari ini. Yesus mengajar kita untuk mampu berkata, ”kami hanyalah hamba-hamba yang tak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”.

Menjadi seorang hamba membutuhkan suatu keutamaan lain, yaitu ketaatan kepada tuannya. Ketaatan seorang hamba terhadap tuannya bisa karena berbagai alasan, antara lain: karena takut atau karena ketergantungan finansial. Namun, sebenarnya ada model lain ketaatan, yaitu ketaatan seorang anak kepada bapanya sebagaimana sudah ditunjukkan Yesus yang menaati semua kehendak Bapa-Nya. Ketaatan selalu terkait dengan cinta. Seorang anak hanya bisa menaati secara sungguh-sungguh kehendak orangtuanya bila ia mencintai orangtuanya.

Bagaimana relasi kita dengan Tuhan? Apakah kita menaati kehendak Bapa kita dan tidak secara sembunyi-sembunyi melanggar perintah-Nya?

Tuhan, ajarilah aku untuk memiliki kerendahan hati dan ketaatan kepada-Mu sehingga aku pantas disebut anak-anak-Mu yang setia. Amin. Sumber : Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: