Renungan harian 27 November 2013 – “tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Rabu, 27 November 2013
Pekan Biasa xxxiv (H)
SP Maria Tak Bernoda dr Medali Wasiat; St. Yakobus dr Persia; St. Virgilius; St. Fransiskus – Antonius Fasami
Bacaan I : Dan. 5:1-6.13-14.16-17.23-28
Mazmur : Dan. 3:62,63,64,65,66,67;
Bacaan Injil : Luk. 21:12-19

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan pen jara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesem patan bagimu untuk ber saksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Renungan
Dalam sebuah wawancara tes masuk sebuah fakultas di sebuah universitas negeri di Jakarta, seorang calon mahasiswa ditanya, ”Kamu keturunan atau bukan, kamu agamanya apa?” Si calon mahasiswa mensharingkan pengalamannya bahwa ia secara sadar dan dengan sengaja mengingkari data tentang dirinya. Ia tidak mengakui bahwa dirinya adalah keturunan chinese dan ia tidak mengakui bahwa ia adalah Katolik. Alasannya sederhana, pertanyaan dalam wawancara itu tidak relevan karena seharusnya terkait dengan kompetensi dan profesionalisme. Maka, buat dia kebohongan yang ia buat tidak ada kaitannya sama sekali dengan iman dia sebenarnya.
Kita kadangkala dihadapkan pada situasi di mana kita harus mengalami perlakuan tidak adil karena keyakinan dan iman yang kita miliki. Dalam arti tertentu memang terjadi banyak kasus dimana keyakinan agama justru digunakan untuk mendiskriminasi sesama. Itulah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam Injil hari ini bahwa ternyata menjadi pengikut Yesus memiliki konsekuensi-konsekuensi yang tidak mudah dalam hidup bermasyarakat. Kadangkala hal yang sama bisa terjadi sebaliknya. Di mana Kristianitas menjadi agama mayoritas, bisa jadi kita pun justru mendiskriminasi dan memojokkan yang minoritas.
Yesus memberi kita suatu kekuatan bahwa kita seharusnya tidak boleh takut terhadap segala sesuatu. Allah sendirilah yang akan memberi kekuatan. Idealnya adalah entah sebagai mayoritas ataupun minoritas, kita tetap harus mengedepankan kedamaian dan kesejahteraan bersama.
Tuhan, berilah aku kekuatan untuk tabah menghadapi aneka konsekuensi dari menjadi pengikut-Mu, berilah aku rahmat untuk selalu menghadirkan damai kepada semua orang. Amin. Sumber : Ziarah Batin 2013
***

Advertisements
%d bloggers like this: