Renungan Minggu 8 desember 2013- Pertobatan ialah langkah hidup mewujudkan iman kepada ALLAH

        Romo Suto  Nabi Yesaya menubuatkan, bahwa Mesias (Kristus)  

akan menebarkan semangat pengenalan akan Allah, membawa kebenaran, damai dan kerukunan, membawa keadilan, serta menjauhkan manusia dari segala tindak kejahatan (Bacaan pertama, Yes.11:1-10). Oleh karena itu, bangsa Yahudi harus membuka hati terhadap kebenaran Allah dengan bertekun pada apa yang tertulis dalam Kitab Suci, agar menarik semua bangsa juga ikut memuliakan Allah (Bacaan kedua, Rom.15:4-9). Sebab, yang menjamin keselamatan bukan keturunan Abraham secara jasmaniah, melainkan yang dari kedalaman hatinya bertobat dan siap menerima baptis dengan Roh Kudus dan dengan api, yaitu mengimani Kristus (Bacaan Injil, Mat.3:1-12).  

 

Allah menghendaki menyelamatkan semua orang tanpa ada yang dikecualikan. Karena manusia diciptakan sebagai pribadi, dalam menyelamatkan Allah menghendaki kerja sama manusia. Karena itu, ada bangsa yang terpilih, agar rencana Allah terlaksana, mengingat karya penyelamatan Allah itu mengikuti proses perkembangan hidup manusia. Tetapi kemudian digantikan oleh Gereja yang didirikan Kristus, karena bangsa Israel menolak-Nya. Proses karya penyelamatan Allah dari luar melalui Gereja dan Allah sendiri berkarya dari kedalaman hati manusia. Itulah bentuk kerjasama yang harus disadari manusia.

 

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Adven ke-2 ini mengingatkan kita, bahwa azas dasar keselamatan manusia ialah bila manusia menyatu dengan Allah. Akan tetapi dengan kekuatannya sendiri, manusia sudah tidak mampu menyatukan hidupnya dengan Allah, karena hidup manusia di dunia ini karena dosa kehilangan benih hidup abadi, sehingga merupakan proses menuju kebinasaan. Maka hanya Allah yang dapat menolong manusia, yaitu mengampuni dosanya dan menebus hidupnya yang kehilangan benih hidup abadi itu. Oleh karena itu bila manusia mau hidup kekal, manusia harus mau menyambut karya penyelamatan Allah itu, tidak menuruti kemauan manusia sendiri. Bangsa Yahudi dipilih untuk menjadi pelopor mengikuti rencana penyelamatan Allah itu.  Tetapi kenyataannya mereka mengikuti kemauan mereka sendiri, bersikap eksklusif, bahkan mengkafirkan orang lain. Itulah yang dikecam oleh Yohanes Pembaptis.“Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan…… Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!”. Bertobat ialah mengikuti kehendak dan rencana Allah menyelamatkan manusia, yaitu Allah mau menyelamatkan semua orang dari bangsa manapun, bukan hanya menyelamatkan mereka saja. Maka buah pertobatan bukan semata-mata keturunan Abraham secara lahiriah, melainkan iman akan janji Allah. Maka Yohanes juga mengatakan : “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian daripadaku lebih berkuasa………. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan api”. Maka sikap eksklusif dan merasa lebih tinggi, lebih baik atau lebih suci dari orang lain, menyiratkan dua hal. Pertama, orang lupa akan misi yang diembannya, yaitu kehidupannya di dunia ini bukan hanya persiapan diri agar pantas menyongsong Kristus, tetapi juga tugas meneruskan keselamatan Kristus itu kepada semua orang, sebab manusia adalah makhluk sosial. Kedua, memang Kristus pertama-tama berkarya diantara umat Israel, agar mereka benar-benar yakin akan kebenaran janji Allah kepada nenek moyang mereka. Tetapi janji yang disampaikan kepada mereka justru harus mereka jadikan sebagai sarana untuk menjadi baik dan suci, sarana bertobat dari kedalaman hatinya, bukan menganggap diri sudah baik dan suci. Dengan demikian mereka memberi kesaksian kepada bangsa-bangsa lain, agar mereka pun diselamatkan. Karena itu kepada umat di Roma rasul Paulus juga mengingatkan hal ini. “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus”.

Pada akhirnya, Kristus akan mengadili setiap orang dengan adil seadil-adilnya, karena Kristus memperhatikan kedalaman hati orang. “Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi, Ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan; dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas dengan kejujuran”.

 

Sadarkah kita bahwa kesiapan menyongsong kedatangan Kristus yang kedua           di akhir zaman tidak lain daripada bertobat, yaitu mengikuti kehendak dan rencana Allah dalam menyelamatkan umat manusia?

 

 

          St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: