Renungan Minggu 2 November 2013-Kehidupan di dunia ini adalah perjalanan menyongsong keselamatan

Nubuat nabi Yesaya menyatakan bahwa Yehuda dan Yerusalem, lambang Kerajaan Allah, akan terlaksana secara paripurna pada hari-hari terakhir, dan para bangsa akan berduyun-duyun datang untuk mengenal jalan Tuhan (Bacaan pertama, Yes.2:1-5). Sebagaimana dikatakan juga oleh rasul Paulus, bahwa keselamatan paripurna sudah dekat dan menasehati kita agar kita mengenakan perlengkapan senjata terang dalam menjalani hidup ini, tidak mencari kepuasan badaniah semata (Bacaan kedua, Rom.13:11-14). Demikian pula Kristus sendiri memberi nasehat, agar kita selalu berjaga-jaga dan bersiap siaga, karena kedatangan Putera Manusia tidak tersangka-sangka (Bacaan Injil, Mat.24:37-44).
Dalam Kitab Suci dikatakan, bahwa ‘setelah genap waktunya’ Allah Putera menjelma menjadi Manusia untuk melaksanakan penyelamatan yang dapat disaksikan manusia secara nyata (Gal.4:4). Istilah ‘genap waktunya’ ini secara tersirat menunjukkan bahwa karya penyelamatan dilaksanakan oleh Allah begitu manusia jatuh ke dalam dosa, tetapi dalam suatu proses panjang, yaitu selama kehidupan manusia di dunia ini. Dalam seluruh kehidupan Kristus memang mulai nyata, karya penebusan yang disampaikan Allah sejak semula kepada Adam dan Eva, lalu kemudian disampaikan kembali dalam bentuk ‘perjanjian’ kepada Abraham, dan terus menerus diperbaharui semakin jelas melalui sejarah bangsa terpilih.

Karya penebusan (penyelamatan) itu telah dimulai sejak manusia jatuh ke dalam dosa dan tetap terus berlangsung sampai paripurna pada kedatangan Kristus kedua di akhir zaman. Kehidupan semua manusia di dunia ini merupakan proses penyelamatan yang harus dijalani bersama Kristus dan akan paripurna pada kedatangan-Nya yang kedua di akhir zaman. Inilah yang diingatkan oleh Gereja dengan masa Adven.
Pesan perayaan Ekaristi Minggu Adven ke-1 ini mengingatkan kita semua, bahwa seluruh kehidupan kita di dunia ini harus kita jalani sebagai persiapan atau perjalanan menuju paripurnanya penyelamatan Allah. Ini berarti hidup manusia di dunia ini merupakan perjalanan menyongsong kedatangan Kristus yang kedua, yang tidak kita ketahui saatnya. Karena menyongsong kedatangan Kristus yang kedua itu, sama dengan menyongsong kematian, kita harus mempersiapkan diri dengan bertekun hidup sebagai orang yang beriman. “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga”. Hidup sebagai pribadi yang beriman, yang siap sedia menyongsong kedatangan Kristus, ialah merawat iman. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam merawat iman : Pertama, nafas hidup beriman itu ialah doa. Doa ini bukan hanya memohon, sehingga orang hanya berdoa bila mempunyai permohonan. Doa itu dialog dengan Tuhan, baik secara lisan maupun dalam merenungkan, merefleksikan apa yang kita imani ataupun dalam seluruh kehidupan kita. “Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia”. Yang harus dijaga bukan hanya hidup di dunia ini karena sebagai persiapan, meskipun akan kita tinggalkan, tetapi justru lebih penting tujuan hidup kita, yaitu hidup abadi dalam hadirat Allah. Kedua, maka sebagai pribadi merawat iman itu berarti menjaga wawasan sebagai orang yang mengimani Kristus, yang merupakan azas dasar pertobatan, sehingga orang dapat beriman. Dengan cara lain hal ini diungkapkan oleh rasul Paulus, yaitu hidup meninggalkan kegelapan dan menggunakan senjata terang. “Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya”. Mengenakan Kristus adalah berwawasan ‘delapan sabda bahagia’ dan ‘ajaran cinta-Nya’.
Sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Yesaya, bahwa pada akhir zaman itu segala bangsa akan berduyun-duyun datang untuk mendengarkan pengajaran dan firman Tuhan, sebab Tuhan akan menjadi Hakim; maka bangsa-bangsa tidak lagi mempersiapkan perang. Dan ia menyerukan : “Hai kamu keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan”.

Sungguhkah kita mendaya gunakan waktu itu sebaik mungkin untuk menyambut Kristus? Sungguhkah iman kita mendorong kerinduan akan penyelamatan paripurna? Sekalipun hal itu berarti menyongsong kematian duniawi?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: