Renungan Minggu 17 November 2013-Di dunia ini haruslah disiapkan untuk menyongsong akhir zaman

Romo SutoHari kiamat akan sungguh terjadi, yang akan menghanguskan orang sombong dan jahat, tetapi bagi yang menghormati nama Allah akan diselamatkan (Bacaan pertama, Mal.4:1-2a). Menyiapkan hidup di dunia ini untuk menyambut akhir zaman berarti bekerja melaksanakan tugas dengan baik dan bertanggung-jawab, tidak merongrong dan menjadi benalu terhadap sesama (Bacaan kedua, 2Tes.3:7-12). Sebab sebagaimana dinubuatkan Kristus, akhir zaman adalah kehancuran dunia jasmani, termasuk kejasmanian manusia, tetapi bila manusia tetap bertekun ia menyelamatkan hidupnya (Bacaan Injil, Luk.21:5-19).

Tujuan hidup kita bukan di dunia ini, tetapi hidup abadi, kerajaan Allah. Maka akhir zaman pasti terjadi. Kiamat atau akhir zaman adalah kehancuran, musnahnya segala yang jasmani dan kejasmanian, yang keberadaannya hanya dalam ruang dan waktu. Karena jati diri manusia adalah gambar Allah, jasmani yang menampakkan yang Ilahi atau rohani, akhir zaman bukan hanya memusnahkan dunia yang jasmani, tetapi juga memusnahkan kejasmanian manusia. Namun karena yang dikehendaki Allah hidup abadi adalah manusia – roh yang merohanikan tubuh jasmaninya — akhir zaman itu akan ditandai kebangkitan badan, yaitu badan yang telah dimurnikan dalam Darah Anak Domba, ‘transformasi’ kejasmanian ke dalam yang rohani, sehingga yang hidup abadi adalah manusia utuh. Sebab roh saja bukan manusia.

Maka kita menantikan kebangkitan badan, yang justru akan terjadi pada hari kiamat, pada akhir zaman, dimana kejasmanian manusia dikuasai penuh oleh rohaninya.
Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-33 ini mengingatkan kita, bahwa hidup manusia di dunia ini adalah hidup dalam ruang dan waktu atau zaman. Bagi manusia, hidup di dunia ini adalah suatu perjalanan, suatu peziarahan menuju tanah air surgawi. Di dunia ini manusia mengalami begitu banyak tantangan, hambatan atau kesulitan. Manusia yang saling membutuhkan sesama manusia, akan saling bermusuhan, saling berperang, saling membunuh. Tetapi bila manusia bertekun dalam doa dan bekerja dengan baik, yang tidak lain adalah merohanikan tubuh jasmaninya, manusia akan selamat. Maka Kristus mengingatkan para rasul : “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan”. Namun dari sisi lain Kristus juga menyatakan, bahwa penganiayaan itu justru merupakan kesempatan untuk memberi kesaksian dalam pembelaan kita, dan Kristus sendiri akan menuntun kita apa yang harus kita katakan. Oleh karena itu kewaspadaan yang dimaksud oleh Kristus itu juga berarti agar kita selalu sadar, bahwa sebagai orang beriman tujuan hidup kita bukan di dunia ini. Kalau demikian, penderitaan yang diterima dengan ikhlas itu merupakan cara memurnikan dan merohanikan tubuh jasmani kita. Itulah salah satu sisi iman yang sangat penting.
Sebagaimana kita alami dewasa ini saja, perubahan dunia ini sangat pesat berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Hidup manusia tampak dipermudah dan dibuat dalam banyak hal menjadi nyaman dan bahkan praktis dan cepat. Seolah-olah dunia ini telah menjadi sempit, seolah-olah manusia telah mengatasi ruang dan waktu. Dari satu sisi hal ini merupakan tantangan bagi iman, yaitu bahwa tujuan hidup kita tidak di dunia ini. Dari sisi lain kita harus berusaha menjadi kemajuan itu untuk mendukung iman. Bila kita tidak waspada, menjadi sombong, kita akan mudah disesatkan. Sebab segala sesuatu yang menyenangkan, menarik dan memberi kepuasan itu akan mudah membelenggu kita dan melumpuhkan iman. “Kalau kamu bertekun, kamu akan menyelamatkan hidupmu”. Karena itulah kita diingatkan oleh rasul Paulus, bahwa yang memberi kemudahan, menyenangkan dan kepuasan menyebabkan kemalasan. Hidup adalah berjuang, bekerja, terutama dalam arti merohanikan jasmaninya. Tidak mau bekerja berarti tidak mau merohanikan tubuh jasmaninya, yang akan binasa, berarti tidak mau hidup. “Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringatkan dan nasehati dalam Tuhan Yesus Kristus …..”. Hari Kiamat pasti akan terjadi dan Allah akan mengadili kita dengan seadil-adilnya menurut apa yang ada dalam hati kita, bukan menurut apa yang kelihatan oleh mata tubuh. Segala sesuatu yang duniawi akan musnah, demikian juga manusia yang terbelenggu keduniawian. Tetapi bagi mereka yang takut akan nama Allah, yang merohanikan tubuhnya yang jasmani, akan diselamatkan.

Sungguhkah hidup kita sebagai orang beriman sesuai dengan kesiapan dan kerinduan menyambut kedatangan Kristus di akhir zaman itu?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: