Renungan Minggu 10 November 2013 – Di kedalaman hati manusia tertanam dorongan untuk hidup kekal

 

Romo SutoKetujuh anak Makabe dalam menghadapi penganiayaan berat dan kematian tetap menunjukkan iman mereka akan kebangkitan badan yaitu hidup sejati yang sempurna (Bacaan pertama, 2Mak.7:1-2, 9-14). Sebab iman dan harapan akan hidup abadi, yang merupakan karunia Allah, memberikan kekuatan dan keteguhan hati menghadapi perlakuan yang jahat, berkat cinta dan kesetiaan Allah (Bacaan kedua, 2Tes.2:5 – 3:5). Memperoleh keturunan bukanlah perwujudan sejati dorongan dalam hati manusia untuk hidup terus, perwujudannya yang sejati ialah menjadi anak-anak Allah, karena Allah adalah hidup itu sendiri (Bacaan Injil, Luk.20:27-38).

Bahwa manusia menghadapi kematian yang tak terelakkan itu merupakan persoalan yang sangat mendasar, karena manusia tidak dapat memecahkan dan mengatasi persoalan itu. Hanya manusia sejati yang menguasai hidup, yang mampu mengatasinya. Oleh dosa Adam semua manusia kehilangan keabadian hidupnya. Maka karya penyelamatan Kristus pada hakekatnya adalah mengembalikan keabadian hidup manusia dengan mengangkatnya menjadi anak-anak Allah. Karena Kristus adalah Allah Puteran yang menjadi manusia.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-32 ini mengingatkan kita, bahwa oleh Sakramen Baptis kita sungguh telah diangkat menjadi anak Allah, yang sama dengan dikembalikannya keabadian hidup kita, sebab Allah adalah Sumber hidup, bahkan Hidup itu sendiri.

Allah melaksanakan hal itu dengan mengutus Putera Tunggal-Nya menjadi Manusia, mengurbankan hidup insani-Nya, untuk mengangkat manusia menjadi anak Allah; menebus keabadian hidup manusia yang hilang karena dosa Adam dengan mengembalikannya dan mencuci dengan darah-Nya tubuh manusia agar layak dimuliakan dalam kebangkitan Kristus. “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama dengan malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan”. Tanpa disadari perkawinan duniawi dianggap sebagai usaha manusia melestarikan proses hidup melalui keturunan. Maka banyak orang menganggap tujuan perkawinan adalah mempunyai anak. Tetapi dengan diangkatnya perkawinan sebagai Sakramen, Kristus bermaksud menyatakan perkawinan sejati, yaitu kesatuan hidup insani dan ilahi, manusia menjadi anak Allah. Dalam kebangkitan, tubuh manusia dimuliakan dalam hadirat Allah. Pancaindera dan nafsu yang merupakan daya dan kekuatan tubuh jasmani manusia itu dikuasai sepenuhnya oleh roh dan hidup ilahi (bdk. Kej.3:7). Manusia mencapai hidup abadi, bila hidupnya menyatu dengan hidup Ilahi (hidup Kristus). Usaha manusia secara duniawi seperti apapun tidak akan mampu membuat manusia menguasai daya dan kekuatan tubuhnya secara paripurna. Seperti dalam budaya Jawa, agar manusia berpantang dan berpuasa mengurangi makan dan tidur (cegah dahar lawan guling) dan bertapa dengan menutup sembilan lubang tubuh manusia (nutupi babahan hawa sanga), yang merupakan pintu yang menyebabkan manusia tidak dapat menguasai hawa nafsunya, meski merupakan satu-satunya cara untuk pengendalian diri, tidak dapat digunakan manusia untuk mencapai hidup abadi, karena dengan cara itu dan selama di dunia ini pengendalian dirinya tidak akan tuntas atau penuh.
Maka rasul Paulus meminta kepada umat agar mendoakannya. Hanya dengan rahmat karunia Allah hawa nafsu dapat dikuasai secara penuh. “Selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang terjadi di antara kamu, dan supaya kami terlepas dari para pengacau dan orang-orang jahat, sebab bukan semua orang beroleh iman. Tetapi Tuhan adalah setia”.
Iman kepada Kristus, kepada Allah, itulah yang menyelamatkan, karena hanya melalui dan dalam Sang Allah-Manusia itu keselamatan (hidup abadi) sebagai manusia utuh (roh dan badan) kita capai. Karena itu pula, iman itu memberikan harapan dan karenanya juga memberikan kekuatan dan keteguhan menghadapi kesulitan dan penderitaan duniawi. “Dari surga aku telah menerima anggota-anggota ini dan demi hukum-hukum Tuhan kupandang semuanya itu bukan apa-apa. Tetapi aku berharap akan mendapat kembali semuanya daripada-Nya.

Apakah kita sungguh sadar apa artinya menjadi anak Allah? Apakah kita juga sungguh berusaha menjaga dan merawat martabat kita sebagai anak Allah yang menjamin hidup kekal, keselamatan?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: