Renungan Minggu 3November 2013- Allah yang tidak menghendaki manusia mati , mengarahkan keinginan atau dorongan hati setiap orang ke pertobatan dan iman.

Romo SutoMeski manusia sangat kecil di hadapan Tuhan, bahkan telah dikuasai dosa, namun cinta Tuhan, apapun tandanya, pahit atau manis, mendorong kemauan baik manusia untuk bertobat (Bacaan pertama, Keb.11:22 – 12:2). Karena itu rasul Paulus berdoa bagi umat di tesalonika, agar suratnya tidak menyebabkan keraguan atas kepercayaan mereka, justru sebaliknya agar kemauan baik mereka, demi kemuliaan nama Kristus, diarahkan oleh Allah membangun iman (Bacaan kedua, 2Tes.1:11 – 2:2). Sebagaimana terjadi pada Zakheus, yang sangat ingin dapat melihat Kristus tetapi memiliki hambatan fisik dan mental, merasakan keinginannya justru dipenuhi oleh Kristus sendiri, sehingga menumbuhkan imannya kepada Kristus (Bacaan Injil, Luk.19:1-10).

Sebagai pribadi, panggilan penciptaan Tuhan membangun dalam kedalaman hati manusia suatu dorongan mencari kepastian akan asal usulnya. Dorongan itu dapat pula dikatakan sebagai dorongan mencari Tuhan, yang dalam perjalanannya kerap kali tidak disadari benar, sehingga berbagai pengalaman hidup yang berbeda-beda dapat terjadi. Suatu pengalaman, entah apapun bentuknya, yang bagi orang tertentu dirasakannya sebagai jawaban atas dorongannya mencari asal usulnya tersebut, akan merupakan pengalaman yang sangat berkesan dan bahkan memberi pencerahan. Disitulah benih iman mulai tumbuh.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-31 ini mengingatkan kita, bahwa Allah berkarya menuntun manusia dari kedalaman hatinya. Tetapi sebagai manusia yang masih hidup di dunia ini, karya Tuhan itu dapat kita tangkap karena dipicu oleh tanda-tanda. Karena itu berbagai macam pengalaman dan kejadian hidup dapat dikatakan sebagai tanda bimbingan Tuhan tersebut. Seperti Zakheus yang memanjat pohon karena ingin sekali melihat Kristus yang akan lewat disitu, ketika Kristus sampai disitu Ia berkata kepadanya : “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”. Bagi Zakheus, yang mungkin tanpa sadar, bahwa keinginannya melihat Kristus itu, merupakan dorongan mencari Tuhan, mencari asal usulnya, sabda Kristus itu dirasakannya menjawab dorongan hatinya, sehingga tumbuhlah iman dari dalam hatinya. “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham”. Akan tetapi dorongan mencari Tuhan itu mudah lumpuh jikalau tidak kita rawat, yaitu bila hidup kita di dunia ini hanya terarah kepada keduniawian, apalagi bila dosa diberi keleluasaan menguasai diri kita. Seperti halnya kita harus melatih kepekaan kita menangkap tanda-tanda, demikian pula dorongan mencari Tuhan itu harus kita latih, agar semakin tajam (lantip, Jawa), sehingga pengalaman sehari-hari pun mampu membakar semangat kita semakin bersekutu dengan Kristus. Namun dalam hal ini kita juga harus mengakui ketidak-berdayaan kita. Iman yang mulai tumbuh itu bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena kekuatan Allah. Hanya Allah dan melalui Kristus keselamatan itu terjadi. “Saudara-saudara, kami senantiasa berdoa untukmu supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu……”.

Sekalipun manusia itu bukan apa-apa di hadapan Allah, tetapi Allah mencintai kita manusia. Allah menciptakan kita manusia karena cinta, agar manusia sebagai pribadi melaksanakan cinta kasih dan karenanya akan menikmati cinta kasih Allah. Dari satu sisi kita harus mengakui kepapaan kita, dan dari sisi lain kita harus mengimani, bahwa Allah sungguh mencintai kita. “Sebab Engkau mengasihi segala yang ada dan Engkau tidak membenci kepada barang apapun yang telah Kau buat. Sebab andaikan sesuatu Kau benci, niscaya tidak Kau ciptakan. Bagaimana sesuatu dapat bertahan, jika tidak Kau kehendaki, atau bagaimana dapat tetap terpelihara kalau tidak Kau panggil?”.

Sadarkah kita, bahwa terhadap Tuhan kita hanya dapat bersyukur, apapun yang kita alami? Sadarkah kita, bahwa tidak mungkin kita menuntut kepada Tuhan, karena merasa berjasa terhadap-Nya?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: