Renungan harian 3 November 2013-Pertobatan sejati membutuhkan usaha keras untuk mengalahkan belenggu-belenggu yang selama ini mengikat dengan meninggalkan cara hidup yang lama.

Minggu, 3 November 2013
Pekan Biasa XXXI (H)
St. Martinus de Porrez; St. Hubertus;
B. Pius Campidelli; B. Rupert Mayert
Bacaan I: Keb. 11:22–12:2
Mazmur: 145:1-2.8-9.10-11.13cd-14; R:1
Bacaan II: 2Tes. 1:11–2:2
Bacaan Injil: Luk. 19:1–10

Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ”Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ”Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: ”Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

Renungan
Dosa merupakan penghambat bagi kita untuk mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup. Ketika orang berada dalam ”situasi gelap”, ia akan takut berada di tempat terang. Zakheus adalah simbol dari kedosaan manusia. Ia tidak mampu melihat Tuhan, bukan hanya karena badannya pendek namun karena hidupnya dipenuhi dengan perbuatan-perbuatan yang merugikan sesama dan menyakiti Tuhan.

Namun, Zakheus pun menjadi simbol dari orang yang sungguh ingin bertobat. Ia naik ke atas pohon melakukan suatu usaha keras untuk mampu melihat Tuhan dan akhirnya Yesus berkenan datang kepadanya dan masuk ke rumahnya. Pertobatan yang sejati membutuhkan usaha keras untuk mengalahkan belenggu-belenggu yang selama ini mengikat. Biarkan Yesus datang ke pusat hati kita, menjamahnya dan menyembuhkannya sehingga kita berani meninggalkan kedosaan kita. Banyak dari kita rindu untuk bertobat, namun kadangkala niat pertobatan itu hanya setengah-setengah.

Akhirnya, pertobatan haruslah ada buahnya. Zakheus membagi setengah hartanya kepada orang miskin dan mengganti 4x lipat kepada orang yang dirugikannya. Ini bukan sekadar suatu ”money laundry”; sebab, yang dilakukan oleh Zakheus setelah itu adalah menjadi murid Yesus yang sejati dengan meninggalkan cara hidupnya yang lama.
Banyak dari kita senantiasa menunda pertobatan dengan berbagai alas an. Namun, sebenarnya alasan utama adalah karena kedosaan itu masih menawarkan belenggu kenikmatan yang kita pun masih terikat dan tak bisa melepaskannya. Bertobatlah saat ini sebelum kepahitan akibat dosa itu muncul ke permukaan.

Doa: Tuhan, ajarilah aku untuk berani bertobat meninggalkan kegelapan dosa yang selama ini membelenggu. Biarlah aku juga mengalami rahmat keselamatan dari-Mu. Amin. Sumber ; Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: