Renungan Minggu 20 Oktober 2013 -Bertekun menghidupi iman adalah syarat tercapainya Hidup kekal

Romo SutoNabi Musa mengangkat tangannya yang membawa tongkat Allah ketika Yosua berperang melawan orang Amalek adalah lambang ketekunan untuk mencapai kemenangan (Bacaan pertama, Kel.17:8-13). Seperti nasehat rasul Paulus, agar kita bertekun dalam beriman kepada Kristus, sebab iman itu mengajar dan menuntun orang kepada kebenaran, meski secara duniawi dapat terasa pahit (Bacaan kedua, 2Tim.3:14 — 4:2). Memandang orang yang bertekun dalam beriman tanpa mengenal lelah, Allah akan membenarkannya (Bacaan Injil, Luk.18:1-8).

Kehidupan manusia selama di dunia ini merupakan perjuangan mengalahkan segala macam rintangan dan tantangan. Sebab kejahatan (setan) tidak akan membiarkan manusia mencapai hidup kekal yang dirindukannya (bdk. Kej.3:15-19). Karena dosa, hidup ini memberi beban. Inilah yang harus tetap kita sadari. Melepaskan beban, kita tidak akan sampai kepada tujuan kita, hidup abadi.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-29 ini mengingatkan akan tujuan hidup kita di dunia ini adalah hidup abadi. Hidup di dunia merupakan perjalanan (proses) menuju hidup sejati, yang harus kita jalani dengan membangun diri kita sebagai gambar Allah. Itulah yang mau dikacaukan oleh setan, karena ia tidak senang manusia hidup kekal. Setan mau manusia melepaskan diri dari hubungannya dengan Allah.

Sebaliknya manusia harus berpegang teguh mempertahankan hubungannya dengan Allah, agar seluruh kehidupannya menggambarkan Allah. Dengan kata lain, seluruh kehidupan kita merupakan doa, apa pun yang kita lakukan dengan sadar tidak melupakan hubungan dengan Tuhan atau merupakan ungkapan iman. Itulah sebabnya budaya kita sebagai orang katolik, berdoa singkat atau membuat tanda salib sebelum melakukan apapun, agar apapun yang kita lakukan itu merupakan doa, kita hubungkan dengan Allah. Memang doa yang diwajibkan Gereja bagi kita adalah menghadiri Perayaan Ekaristi pada hari Minggu atau Hari Raya yang disamakan dengan hari Minggu, karena Gereja – seperti halnya Allah sendiri – memperlakukan manusia sebagai pribadi yang berdaulat. Maka kewajiban yang diberikan bukan yang terberat, tetapi yang terringan, agar kita sendiri merawat hubungan manusia dengan Tuhan, merawat iman dengan tekun. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Putera Manusia datang, apakah Ia akan menemukan iman di bumi ini?”. Doa itu ungkapan iman dan iman itu hidup bila dilakukan, tampak dalam perbuatan (bdk.Yak.2:17). Maka tidak mau berdoa atau memutus hubungan dengan Allah itu berarti kehilangan iman. Oleh karena itu rasul Paulus memberi nasehat, agar kita berpegang teguh pada kebenaran iman kepada Kristus, sebab iman itu jaminan akan keselamatan. Iman mengajar dan mendidik orang agar berani mengakui kesalahan dan menerima konsekuensinya untuk memperbaikinya. “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi pernyataan-Nya dan demi kerajaan-Nya : beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”. Berpegang teguh pada kebenaran iman kepada Kristus itu berarti orang yakin, bahwa segala sesuatu yang dialami atau diterima dari Allah, menyenangkan ataupun menyakitkan, pasti dimaksudkan oleh Allah demi keselamatan. Sebagaimana apa yang dilakukan nabi Musa untuk Yosua, yaitu mengangkat tongkat Allah demi keselamatan umat Allah yang berperang melawan orang-orang Amalek, bila Musa tidak jemu mengangkat, Israel akan menang. Hal itu melambangkan akan ancaman oleh dosa (kejahatan) terhadap keselamatan sejati yang dibawa Kristus itu hanya dapat ditangkal dengan ketekunan menghidupi iman. (bdk.Mt.11:5-6).

Manusia dapat merasa capai, jenuh atau kering (gersang) ataupun sakit– misalnya karena permohonannya tidak kunjung dikabulkan atau diberi salib suatu penyakit — dalam menghidupi iman. Maka orang harus mencari akal mengatasi perasaan-perasaan seperti itu, karena perasaan-perasaan seperti itu mudah menyebabkan orang kehilangan iman kepada Tuhan.

Sadarkah kita akan pentingnya bertekun? Apakah kita sungguh sudah memahami ‘berdoa yang benar’ itu? Mungkin kita tidak sadar, bahwa kita salah berdoa (bdk.Yak.4:3).

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: