Renungan harian 16 Oktober 2013-Tuhan Yesus mengecam orang Farisi dan ahli Taurat karena mereka berbicara tentang kebaikan, namun tidak melakukan apa yang dikatakan, bahkan mereka suka menghakimi orang lain.

Rabu, 16 Oktober 2013
Pekan Biasa XXVIII (H)
St. Gerardus dr Mayella; Sta. Hedwiq;
Sta. Margaretha Maria Alacoque; St. Gallus
Bacaan I: Rm 2:1–11
Mazmur: 62:2–3.6–7.9; R:13b
Bacaan Injil: Luk 11:42–46

Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar per­sepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.” Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: ”Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” Tetapi Ia menjawab: ”Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.”

Renungan
Tuhan Yesus mengecam orang Farisi dan ahli Taurat karena mereka pandai berbicara tentang kebaikan, namun mereka tidak melakukan apa yang dikatakan, bahkan mereka suka menghakimi orang lain. Sikap seperti inilah yang tidak disukai oleh Yesus. Apa yang dilakukan orang Farisi dan ahli Taurat adalah membangun citra diri baik dengan cara berbohong.

Membangun hidup jujur dan apa adanya jauh lebih sulit daripada membangun ”citra diri” yang tampak baik. Dengan citra diri yang baik, kita mengharapkan mendapat penghormatan dan penghargaan dari masyarakat dengan berkata-kata yang indah dan penuh kebijaksanaan di depan umum. Sebagai murid-murid Kristus kita tidak berhenti membangun citra diri baik melalui cara yang positif. Tetapi, lebih dari itu, membangun sikap jujur, tulus, otentik dan selalu berbuat baik walaupun tidak ada orang yang memuji dan menghargai kita jauh lebih berharga daripada memunculkan sikap munafik agar orang menilai baik diri kita.

Bagaimana agar kita bisa melakukan itu semua? Yaitu dengan melepaskan diri dari segala keinginan untuk dihormati, diakui, dipuji, dll. Bukan itu yang bisa membuat hidup bahagia. Yang membuat bahagia dan damai adalah jika kita bisa hidup tulus, jujur, selalu melakukan hal yang baik tanpa pamrih. Dan semua itu kita lakukan demi kemuliaan Tuhan semata.

Doa: Allah Bapa Yang Mahakasih, dampingilah aku agar memiliki ketulusan hati. Sehingga ke hadiranku mampu menghadirkan belas kasih-Mu kepada sesamaku. Semoga dunia men jadi tempat yang adil dan penuh damai, agar semua orang mengalami damai-Mu. Amin. Sumber : Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: