Renungan harian 14 Oktober 2013 -Percaya kepada Kristus, mengandung konsekuensi, yaitu: pertobatan.

Senin, 14 Oktober 2013
Pekan Biasa XXVIII (H)
St. Yohanes Ogilvie; St. Kalistus I, Paus;
B. Gundisalvus dr Lagos; B. Gonzalo dr Lagos
Bacaan I : Rm. 1:1–7
Mazmur : 98:1–4; R:2a
Bacaan Injil : Luk. 11:29–32

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: ”Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”

Renungan
Kerinduan Allah adalah agar semua umat bisa merasakan kasih-Nya. Bukti bahwa Allah ingin dekat dengan umat-Nya adalah Dia mau menjelma dalam diri Yesus Kristus. Di dalam Kristus terpenuhi janji Allah atas Sang Penyelamat yang turun ke dunia. Yesus Kristus adalah tanda dan bukti bahwa Allah itu baik dan peduli. Kendatipun demikian, manusia masih sulit untuk percaya.
Ketidakpercayaan adalah hambatan pokok untuk bisa bersatu dengan Allah dalam kasih sehingga dalam hidupnya manusia akan selalu mengalami kegersangan. Sebaliknya, orang yang percaya seperti mata air yang akan terus mengalirkan kesegaran dan keselamatan bagi diri dan sesamanya.

Percaya kepada Kristus, mengandung konsekuensi, yaitu: pertobatan. Inilah yang membuat kita kadang sulit untuk sungguh percaya karena kita harus membuat komitmen untuk meninggalkan segala bentuk kelekatan pada kenikmatan duniawi. Maka tantangan kita adalah, apakah kita berani bertobat agar kita sungguh mampu menyerahkan diri kita dan percaya pada kehendak Allah?

Allah Bapa Yang Mahakasih, untuk bisa percaya aku harus berani menyangkal diri. Kuatkanlah aku ya Tuhan, agar aku berani bertobat dan menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu. Amin. Sumber : Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: