Renungan Minggu 6 Oktober 2013-Iman kepada KRISTUS mendatangkan kekuatan ilahi untuk mampu menghadapi berbagai persoalan.

Romo SutoOrang beriman akan tetap hidup sekalipun menghadapi penindasan, kejahatan dan penganiayaan (Bacaan pertama, Hab.1:2-3; 2L2-4). Sebab orang beriman telah menerima Roh Kekuatan, Roh kasih dan ketertiban, agar iman yang merupakan harta yang indah itu akan dirawatnya berkat Roh Kudus yang tinggal dalam hatinya (Bacaan kedua, 2Tim.1:6-8, 13-14). Karena itu orang beriman di hadapan Tuhan akan bersikap sebagai hamba yang tak berguna, hanya melakukan yang seharusnya dilakukan, tetapi bila ia memberi perintah kepada pohon pun, akan ditaati (Bacaan Injil, Luk.17:5-10).

Berkali-kali bila Kristus menyembuhkan orang, Ia bersabda ‘Imanmu yang menyelamatkan kamu’. Iman mempunyai kekuatan yang begitu besar, karena beriman berarti disatukan dengan Allah sendiri, Roh Kudus, Sang Cinta Allah, bersemayam dalam hatinya dan Kristus mencurahkan hidup ilahi-Nya. Semakin besar iman seseorang semakin besar pula kekuatan yang dilimpahkan oleh cinta dan hidup ilahi, sehingga tampak mengatasi hal-hal yang bersifat kodrati.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-27 ini mengingatkan kita, bahwa iman itu bukan sekedar percaya, melainkan menjadikan apa yang dipercaya itu sebagai pertimbangan setiap langkah hidupnya. Iman itu dihidupi. Contoh yang sangat jelas ialah iman Abraham.

Abraham percaya akan janji Allah, bahwa ia akan menjadi bapa suatu bangsa yang besar, sekalipun ia sudah tua dan tidak mempunyai anak.
Kepercayaan Abraham itu dibenarkan oleh Allah (=menjadi iman), maka ia lalu mempunyai anak. Demikian pula Abraham tetap percaya akan janji Allah itu, sekalipun Allah memintanya untuk mengurbankan anak tunggalnya itu. Sekalipun perintah Allah tampaknya bertentangan dengan janji-Nya, namun Abraham percaya, Allah setia akan janji-Nya.
Demikianlah sikap imani itu diungkapkan oleh Kristus sendiri dengan : “Apakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu………….. Kamu adalah hamba yang tidak berguna, kamu hanya melakukan apa yang harus kamu lakukan”. Selama orang menjalankan apa yang diimani, apalagi justru dengan ucapan syukur, tidak menuntut atau merasa sudah berjasa, iman seperti itu iman yang besar dan akan memiliki kekuatan yang sangat besar pula, tidak terbayangkan oleh pikiran manusia. Seperti halnya rasul Paulus, yang mengalami dan merasakan cinta kasih Kristus kepadanya yang sedemikian besar, sehingga ia merasa seperti terbelenggu oleh cinta kasih-Nya, justru saat ia sedang menganiaya pengikut-pengikut-Nya, ia sungguh mengimani Kristus, sehingga memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa menghadapi penderitaan. Itulah ajaran yang sehat, ucapan syukur atau terima kasih, harta yang tak ternilai bagi kita untuk mencapai hidup abadi. “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita”. Sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Habakuk, bahwa penderitaan, musibah, bencana, kelaliman dan penindasan, bukanlah kemarahan Tuhan, melainkan dibiarkan terjadi terhadap kita sebagai tanda cinta kasih Allah untuk melatih kita agar menjadi kuat dan tangguh menghadapi kejahatan sebagai anak Allah, karena beriman. Sebab Allah menghendaki semua orang selamat tanpa pilih kasih (bdk. Mt.5:47-48). Pada saatnya semua itu akan berakhir. “Tuliskanlah penglihatan itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi segera ia menuju kesudahannya dengan tidak menipu….”.

Apakah kita menyalahkan Tuhan, bila menghadapi suatu musibah atau mengalami penderitaan? Itu tanda belum beriman.

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: