Renungan Minggu 29 September 2013-“ORANG YANG BERIMAN AKAN PEDULI TERHADAP NASIB SESAMA”

Romo SutoCelakalah orang yang hidupnya hanya berpesta pora dan melupakan orang lain yang miskin dan menderita, yang membutuhkan pertolongan (Bacaan Pertama, Am.6:1a,4-7). Sebagai orang yang telah mengimani Kristus, kita harus berjuang bukan hanya sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat duniawi, tetapi juga sebagai anak Allah yang mengejar hidup abadi (Bacaan kedua, 1Tim.6:11-16). Allah telah mengutus para nabi untuk mengingatkan dan mengajarkan jalan Tuhan, tetapi bila mereka tak mau mendengarkannya, mereka akan menderita selamanya (Bacaan Injil, Luk.16:19-31).

Untuk mengenal diri sendiri saja, manusia harus keluar dari dirinya dan memberikannya kepada orang lain justru untuk dikembalikan kepada sirinya. Karena itu, pengenalan terhadap dirinya sendiri tidak dapat lepas dari pengenalannya terhadap orang lain, sehingga seolah-olah dalam diri manusia terdapat pribadi orang lain. Dari kenyataan itu, menjadi terang bagi kita mengapa Kristus mengajarkan cinta kepada sesama seperti mencintai diri sendiri. Kenyataan ini dalam kehidupan sehari-hari dapat diungkapkan dengan kepedulian terhadap sesama, terutama bagi yang membutuhkan pertolongan.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-26 ini mengingatkan kita, bahwa pribadi kita adalah pribadi sosial, karena pribadi manusia adalah gambar Pribadi Allah Tritunggal.

Kemandirian dan kedaulatan pribadi manusia justru akan dirasakan olehnya, bila ia dalam hubungan yang baik dengan sesamanya. Dalam budaya Jawa, ada pandangan yang menunjukkan akan kesadaran dalam hal ini, sekalipun ungkapannya sangat sederhana. ‘Dadi uwong iku kudu sing lumrah’. Artinya, orang itu harus dapat menempatkan diri sesuai dengan lingkungan dimana ia berada. Secara tersirat, ini menunjukkan bahwa tidak mungkin orang akan merasa benar-benar mandiri dan berdaulat dengan aman dan damai, tanpa peduli terhadap sesama. Dan dilihat dari ajaran Kristus tentang cinta kasih kepedulian terhadap sesama itu, secara eksplisit mendapat tekanan lebih kuat lagi. Lebih-lebih lagi bahwa kemiskinan, sakit, cacat, menderita dan lain-lain itu merupakan lambang belenggu dosa terhadap manusia, yang akan dibebaskan oleh Kristus. “Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat penghiburan dan engkau menderita”.
Orang kaya itu menderita bukan karena ia kaya, melainkan karena ia tidak peduli terhadap Lazarus yang menderita, bahkan memperlakukannya dengan kejam. Demikian pula rasul Paulus memandang Lazarus yang diceriterakan dalam perumpamaan Kristus itu, bukan karena ia miskin, tetapi karena menerima perlakuan dam kemiskinannya itu dengan ikhlas. “Timotius, hamba Allah, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kesabaran dan kelembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi”. Sebab selama di dunia ini hidup manusia adalah perjuangan, adalah pertandingan untuk merebut hidup kekal, sampai paripurnanya karya penyelamatan Kristus di akhir zaman nanti. Itu berarti selama di dunia ini manusia harus membangun pribadinya menjadi pribadi yang dewasa, matang dan utuh, yang tidak mungkin dapat dicapai sendirian, apalagi dengan sengaja menyingkirkan sesama. Karena itulah, orang yang tidak mempedulikan sesamanya yang membutuhkan pertobatan, bahkan juga tidak memperdulikan sesamanya yang membutuhkan pertolongan untuk hidupnya di dunia ini, dinubuatkan oleh nabi Amos, bahwa karena bangsa Israel tidak mempedulikan pertobatan mereka yang berdosa dan solidaritas terhadap mereka yang miskin dan menderita, bangsa itu akan dijadikan orang buangan. Ini pun berlaku bagi kita, bila kita juga tidak peduli terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan sesama, kita adalah manusia celaka.

Sadarkah kita, bahwa kepedulian terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan sesama itu merupakan pancaran akan kemanusiaan sebagai gambar cinta kasih Allah?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: