Renungan harian 26 September 2013- Sindrom Herodes

Kamis, 26 September 2013
Pekan Biasa XXV (H)
St. Kosmas dan Damianus; St. Siprianus dan Sta. Yustina
B. Gaspar Strangassinger; St. Elzear & Delfina
Bacaan I: Hag. 1:1-8
Mazmur: 149:1-6a.9b; R:4a
Bacaan Injil: Luk. 9:7-9

Herodes, raja wilayah, mendengar se­ga­la yang terjadi itu dan ia pun me­rasa cemas, sebab ada orang yang mengata­kan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: ”Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.

Renungan
Raja Herodes cemas. Itulah yang bisa kita tangkap dalam bacaan Injil hari ini. Herodes cemas karena kehadiran Yesus. Kabar yang diterimanya menyebutkan bahwa Yesus adalah Yohanes yang telah bangkit lagi. Tetapi, kabar lain mengatakan bahwa Yesus adalah Elia yang muncul kembali. Dengan Yohanes, Herodes sudah trauma karena segala kebobrokan moralnya telah dibongkar oleh Yohanes. Sementara Elia adalah Nabi yang sangat dihormati oleh sebagian besar orang Yahudi. Berita-berita yang tidak jelas tentang Yesus itu semakin membuat Herodes gelisah. Itu juga yang mendorongnya ingin bertemu Yesus. Dia ingin bertemu Yesus tentu bukan hanya untuk berkenalan dengan Yesus atau berguru kepada Yesus. Dia ingin menjumpai Yesus karena ingin membinasakan Yesus, sebagaimana dia juga melakukannya terhadap Yohanes.

Kecemasan Herodes bersumber pada ketakutannya akan kehilangan kekuasaan dan terbongkarnya kebobrokan moralnya. Dia ingin melindungi semua itu, bukan untuk rakyatnya tetapi untuk dirinya sendiri. Karena hanya memikirkan kepentingannya sendiri, kepentingan orang lain tidaklah penting. Orang lain akan dilihat dalam dua kutub, memihak dia atau melawan dia. Orang-orang yang memihak dia, dikendalikan dengan ketat, sementara yang melawan dia akan disingkirkan.

Kecenderungan sebagaimana dialami oleh Herodes itu bisa jadi ada juga di zaman kita. Kita sebut saja ”Sindrom Herodes”. Kecenderungan ini bisa muncul di mana saja. Ia bisa muncul di keluarga, lingkungan, perusahaan, bahkan juga di dalam Gereja. Ketika orang selalu menganggap orang lain sebagai saingan yang harus disingkirkan, pada saat itulah sindrom ini muncul. Ketika orang tidak mau mundur dari jabatannya, padahal harusnya periodenya sudah habis, pada saat itulah sindrom ini muncul. Ketika kita ketakutan orang lain tahu kelemahan-kelemahannya, pada saat itulah sindrom ini muncul. Bagaimana dengan kita? Apakah ada benih-benih sindrom itu menghinggapi kita?

Doa: Ya Tuhan, semoga aku tidak menganggap orang lain sebagai saingan, tetapi sebagai teman yang bertumbuh bersama dalam Dikau. Amin. Sumber: Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: