Renungan Minggu 22 September 2013- Seperti manusia sendiri, kekayaannya duniawi ini juga memiliki fungsi sosial.

Romo SutoAllah tak akan melupakan perbuatan orang yang curang, menipu dan menindas sesamanya demi keuntungan duniawi bagi dirinya sendiri (Bacaan pertama, Am.8:4-7). Karena itu rasul Paulus memberi nasehat, agar dalam kehidupan bersama, baik pemerintah, para pejabat dan seluruh masyarakatnya, didoakan, agar mengenal kebenaran, sehingga kehidupan sosial damai dan sejahtera (Bacaan kedua, 1Tim.2:1-8). Dan dalam menggunakan uang dan kekayaan duniawi lainnya diusahakan bermanfaat pula untuk mencapai hidup abadi, jangan sampai justru menjadi penghambat (Bacaan Injil, Luk.16:1-13).

Manusia diciptakan sebagai pribadi gambar Pribadi Allah Tritunggal, yang wujud nyatanya ialah pribadi sosial. Sehingga pribadi manusia mengandung hal yang paradoksal, yaitu sebagai pribadi itu mandiri, karena pribadi itu yang dapat mengatakan ‘inilah aku’ (ego), dan dari sisi lain pribadi manusia tidak akan dapat mandiri (menyatakan diri ‘aku’) tanpa orang lain, sehingga dalam pribadi setiap orang ‘terkandung’ pribadi orang lain (bdk.Kej.2:23). Sifat sosial itu melebar ke semua yang dibutuhkan manusia untuk hidup di dunia ini.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-25 ini mengingatkan kita, bahwa sebagai pribadi yang hidup di dunia, manusia dalam proses menemukan dan mengembangkan jati dirinya. Untuk itu, manusia juga membutuhkan berbagai sarananya. Allah menyerahkan dunia ini untuk digunakan dan dikelola sebagai sarana pengembangan diri manusia dalam kebersamaan dengan orang lain.

Itu berarti, pengelolaan dunia sebagai sarana pengembangan pribadi, yang mandiri dan sekaligus sosial itu, harus tetap menuntun kepada hidup abadi sebagai tujuan akhir manusia. “Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan menggunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi”.
‘Menggunakan Mamon untuk membangun persahabatan’ itu menunjukkan kekayaan duniawi miliknya sendiri itu memiliki fungsi sosial. Bukan maksud Kristus agar kita korupsi seperti yang dilakukan bendahara yang tidak jujur itu. Memberi sebagai tanda cinta itu bukan hanya akan mengurangi kekayaannya, tetapi juga berarti memperoleh sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kekayaan pribadi yang tak dapat dicuri orang. Disitulah letak kemandiriannya sebagai pribadi. Sebab sebagai orang beriman hidup kita telah diangkat martabatnya menjadi anak Allah oleh baptis, sekalipun kita masih tetap di dunia. Hidup kita sebagai anak Allah itu merupakan perubahan yang radikal, yang asing bagi dunia. Maka di tengah masyarakat yang mendewakan kekayaan duniawi – kekayaan yang membelenggu, milik manusia yang berbalik menguasai manusia — hidup sebagai anak Allah itu sungguh akan kelihatan asing, aneh, tidak mustahil dipandang seperti orang gila. Hal ini merupakan tantangan bagi kita, apakah kita akan dapat tetap setia memperlakukan kekayaan duniawi dengan fungsi sosialnya, agar tidak berbalik menguasai kita. Maka kesatuan dengan seluruh umat dalam Kristus, kesatuan Gereja, merupakan kekuatan yang tak boleh dilupakan. Dan rasul Paulus menambahkan, supaya kita mohon kepada Tuhan, agar masyarakat dan para penguasa di dunia ini menciptakan suasana yang sesuai untuk kita dapat hidup dengan tenang sebagai anak Allah, sebagai Gereja, yaitu dengan melakukan seperti yang dilakukan Kristus sendiri, memberikan hidup-Nya demi keselamatan semua orang. “…. panjatkanlah doa permohonan dan doa syukur, untuk semua orang, untuk raja-raja dan para pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan”. Mempedulikan kepentingan sesama, terutama yang miskin dan menderita, dengan saling membantu dan kerelaan berkurban, tidak akan mengurangi kekayaannya, setidaknya kekayaan yang tak dapat dicuri orang itu. “Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka”.

Sadarkah kita, bahwa maksud Kristus dengan menyatakan ‘setia dalam perkara-perkara kecil, Ia setia pula dalam perkara-perkara besar’ itu berarti menjalani hidup di dunia ini yang menuntun ke hidup yang kekal?
St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: