Renungan harian 22 September 2013-” Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar”

Minggu, 22 September 2013
Pekan Biasa XXV (H)
St. Thomas dr Vilkanova; St. Mauritius, dkk;
St. Ignatius dr Santhi; Yusuf Calasanz Marques; Henrikus Saiz, dkk. Bacaan I: Am. 8:4–7
Mazmur: 113:1–2.4–6.7–8; R: lih. 1a.7b
Bacaan II: 1Tim. 2:1–8
Bacaan Injil: Luk. 16:1–13 (Luk. 16:10–13)

Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ”Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.
Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Renungan
Hachiko (1923–1935) adalah seekor anjing peliharaan Profesor Ueno, seorang pengajar di Universitas Kekaisaran di Tokyo Jepang. Anjing ini terkenal karena kesetiaannya. Setiap hari, dia mengantar tuannya yang pergi mengajar naik kereta api dari stasiun kota. Anjing itu juga menunggu di tempat yang sama saat tuannya pulang dari mengajar di sore hari. Ketika kemudian tuannya meninggal dunia akibat serangan jantung, anjing ini tetap setia menunggu di depan stasiun kereta itu. Dia menunggu sampai dia sendiri mati. Kesetiaan dan cinta Hachiko menjadi teladan di Jepang, bahkan kisahnya dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.

Setia itu memang tidak mudah, tetapi bisa dilatih dan dibiasakan. Kesetiaan bisa dilatih mulai dari hal-hal yang kecil. Yesus tadi mengatakan, ” Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Kalau anjing saja bisa setia kepada tuannya, harusnya manusia bisa mengunggulinya. Apalagi kita bukan hanya manusia, tetapi manusia yang beriman kepada Yesus. Sebagai murid-murid Yesus kita ditantang untuk semakin belajar setia. Kita mesti terus belajar setia kepada suami/istri, setia kepada tugas dan perutusan, setia pada kebenaran dan keadilan, setia kepada Tuhan dan sesama. Kalau tidak setia, apakah kita tidak malu pada Hachiko!

Doa: Tuhan, ajarilah aku setia. Kumohon anugerah-Mu supaya aku setia kepada firman-Mu, panggilan-Mu, dan kepada tugas-tugas harianku. Amin. Sumber : Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: