Renungan harian 18 September 2013- Orang Yahudi yang tidak mampu memberi tanggapan yang tepat atas suatu situasi.

Rabu, 18 September 2013
Pekan Biasa XXIV (H)
St. Yosef dr Cupertino; St. Yohanes Makias
Bacaan I: 1Tim. 3:14–16
Mazmur: 1111:1–6; R:2a
Bacaan Injil: Luk. 7:31–35

Kata Yesus: ”Dengan apakah akan Ku umpama­kan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

Renungan
Beberapa tahun yang lalu dalam khazanah lagu-lagu campursari berbahasa Jawa, ada satu lagu unik, judulnya ”Slenco” ( = tidak nyambung). Lagu ini dinyanyikan oleh Cak Diqin dan Eva. Bentuk nyanyian ini sebenarnya merupakan sebuah dialog, tetapi dialog yang tidak nyambung. Eva bertanya, ”Mas kangmas namine sinten”(artinya : Siapa nama kakak?). Apa jawab Cak Diqin? Dia menjawab, ”Sakniki dintene Sabtu” (artinya : Sekarang hari Sabtu). Begitu seterusnya, lagu ini diwarnai dialog yang selalu tidak nyambung. Sebagai sebuah lagu, lagu ini enak didengar dan lucu. Tetapi, bagaimana kalau dalam hidup sehari-hari kita berhadapan dengan orang-orang yang ”slenco”, orang-orang yang tidak nyambung dengan realitas, orang-orang yang tidak bisa membaca situasi dengan tepat? Bisa dipastikan, kita akan jengkel dan menggerutu.
Demikianlah yang hendak mau digambarkan oleh Yesus ketika Ia menggambarkan orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi tidak nyambung dengan keadaan sekitar. Mereka tidak peka akan situasi. Ketika situasi menuntut bergembira, mereka tidak ikut bergembira. Sementara ketika situasi sedih, mereka tidak ikut sedih. Ketidakpekaan itu membuat orang Yahudi sering salah sambung. Semoga kita mempunyai kepekaan akan situasi, dan memberikan tanggapan yang tepat atas situasi itu. Inilah kemampuan membaca tanda-tanda zaman yang perlu dimiliki oleh setiap pengikut Yesus. Apakah kita sudah mengusahakannya?
Doa: Tuhan Yesus, semoga aku semakin peka membaca tanda-tanda zaman, berkat imanku kepada-Mu! Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: