Renungan Minggu 15 September 2013-Mengimani Kristus berarti mempunyai keyakinan akan kerahiman Allah.

Romo SutoIman nabi Musa bahwa Allah itu maharahim diungkapkan pada doa permohonan, yang seolah-olah ia yang melunakkan kemurkaan Tuhan (Bacaan pertama, Kel.32:7-11, 13-14). Iman yang sama tetapi diungkapan rasul Paulus berbeda sebagaimana pengalamannya, yaitu belas kasih Allah kepadanya bukan hanya mengampuni dosanya, tetapi juga mengangkatnya sebagai rasul di saat ia menganiaya umat Allah (Bacaan kedua, 1Tim.1:12-17). Sebagaimana dinyatakan Kristus sendiri, kedatangan-Nya justru untuk mewartakan belas kasih Allah, agar manusia mau bertobat, sebab Allah tidak menghendaki manusia mati (Bacaan Injil, Luk.15:1-32).

Keyakinan akan kerahiman Allah itu sangat penting bagi orang yang merasa berbuat dosa yang begitu besar, agar tidak jatuh ke dalam keputus-asaan. Bahkan keyakinan itu akan menjadi kekuatan dalam menghadapi tantangan perubahan yang radikal seperti perubahan pertobatan. Kehendak Allah hanya satu, yaitu agar manusia hidup dan selamat, bahkan kehendak Allah itu tidak berubah terhadap orang yang menolak kehendak-Nya. Allah terus berusaha agar orang berdosa bertobat dan Allah siap mengampuni.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-24 ini mengingatkan kita, bahwa kerelaan mengampuni itu tanda cinta kasih yang amat besar dan kepribadian yang utuh.

Tritunggal justru menunjukkan Pribadi Allah itu Esa. Maka mengampuni berarti menerima semua akibat dosa yang menyakitkan. Kristus mau menerima akibat dosa manusia, tetapi bukan berarti kalah, melainkan untuk dikalahkan, untuk diatasi. Mengampuni bukan melupakan. Sebab melupakan itu tidak memecahkan persoalan, melainkan sama dengan menyimpan persoalan. Menyelamatkan manusia itu mengampuni dosa manusia. Maka Kristus, Allah Putera yang menjadi Manusia, menerima dengan ikhlas semua akibat dosa itu sampai pada kematian di salib. Itulah gambaran yang dapat kita raba akan kerahiman ilahi. “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Dari pengalaman pribadi rasul Paulus, yang merasa sangat berdosa terhadap Allah, karena menganiaya umat Allah, ia menambahkan, bahwa semakin besar kesalahan atau dosa yang dilakukan, ia merasakan semakin berlimpah rahmat kasih karunia dan kerahiman Allah (lh. Rom.5:20-21). Allah adalah Pribadi yang Mahasempurna, sehingga Pribadi Allah itu Tritunggal. Pribadi Allah adalah Pribadi yang utuh secara sempurna. Allah adalah Rahim, yang tidak mungkin tidak memberikan pengampunan kepada orang berdosa yang bertobat. Rasul Paulus sungguh merasakan betapa besar kerahiman Allah terhadap dirinya. “….. aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya,…….. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataanku ini benar dan patut diterima sepenuhnya : Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa”. Sebagaimana yang tampak pada Allah yang menyelamatkan bangsa Israel keluar dari penindasan Mesir, tetap berusaha agar mereka bertobat, meskipun masih dalam perjalanan ke tanah yang dijanjikan pun, mereka telah jatuh berkali-kali ke dalam dosa. Karena janji Allah menyelamatkan manusia itu abadi, Allah akan terus berusaha melalui para nabi-Nya agar Umat Allah itu bertobat kembali. Allah tidak pernah mengubah kehendak-Nya menyelamatkan manusia dengan mengusahakan pertobatan untuk mengampuni dosa mereka.
Sadarkah kita, bahwa jikalau mau membangun pribadi kita sebagai pribadi gambar Allah, kita pun harus membangun pribadi semakin utuh, seperti Kristus ikhlas mengampuni kesalahan sesama, betapa pun besarnya dan berapa kali juga harus memaafkannya? Sebab kesadaran akan belas kasih Allah juga memberi harapan kepada kita sendiri, orang berdosa, untuk memperoleh pengampunan, asalkan kita mau bertobat dan juga mau memaafkan sesama.
St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: