Renungan harian 11 September 2013-Setiap orang ingin bahagia. Kapan kita bisa bahagia?

Rabu, 11 September 2013
PEKAN BIASA XXIII (H)
St. Protus dan Hyasintus;
B. Yohanes Gabriel Perboyre
Bacaan I: Kol. 3:1-11
Mazmur: 145:2-3.10-13b; R:9a
Bacaan Injil: Luk. 6:20-26

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu ; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

Renungan
Setiap orang ingin bahagia. Kapan kita bisa bahagia? Kita akan bahagia kalau kita mau menerima segala kekurangan dan penderitaan tanpa mengeluh. Kita akan bahagia kalau kita mau memberikan diri kita demi kepentingan orang lain.

Santo Yohanes Gabriel Perboyre adalah contoh orang yang sungguh-sungguh berbahagia. Sebagai seorang misionaris di Cina ia terus melaksanakan pelayanan kerasulan di antara umat Kristiani, meskipun ada banyak pengejaran dan penganiayaan. Ia akhirnya wafat sebagai martir pada tanggal 11 September 1840, setelah dikhianati oleh muridnya dan setelah mengalami penyiksaan yang sangat berat. Dengan kemartirannya, Yohanes Gabriel justru berbahagia. Dia berbahagia karena telah memberikan dirinya seutuhnya untuk melayani umat di Cina.

Kita tidak harus mati seperti Yohanes Gabriel untuk memberikan diri bagi orang lain. Kemartiran di zaman ini adalah usaha keras kita untuk membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Apa pun peran kita, entah di rumah, entah di tempat pekerjaan, kalau kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan setia, pelayanan itu akan menjadi sumber kebahagiaan kita. Maka orang akan bahagia ketika dia menjadi seorang bapak keluarga yang baik. Orang akan bahagia ketika dia menjadi istri yang baik. Orang akan bahagia ketika dia menjadi anak yang baik. Orang akan bahagia ketika dia menjadi karyawan yang baik. Apakah kita termasuk orang yang berbahagia itu?

Doa: Tuhan ampuni aku kalau selama ini kurang memikirikan dan melayani orang lain. Semoga Engkau masih member aku kesempatan untuk berbuat baik bagi orang-orang disekitarku. Amin.

Sumber: Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: