Renungan harian 8 September 2013-“tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Hari Minggu, 8 september 2013
Biasa XXIII
Keb. 9:13-18;
Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17;
Flm. 9b-10,12-17;
Luk. 14:25-33

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:
“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.
Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang?
Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.
Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Renungan:

Yesus dalam kesempatan ini berbicara tentang syarat menjadi murid dan pengikut-Nya. Dan bagaimana bersikap sebagai pengikut-Nya .
Syarat menjadi pengikut Yesus nampak berat sekali. Tetapi yang dimaksud Yesus adalah , kalau mau menjadi pengikut-Nya harus bersedia memiliki “komitment dan konsistensi” . Maksudnya bersedia untuk memutuskan menjadi pengikut-Nya dengan hati nurani yang ditopang dengan keberanian untuk hidup menurut kehendak Tuhan . Sebab keputusan untuk nenjadi pengikut-Nya membawa dampak bagi hidup yang dijalani setiap hari.
Dampak itu tidak lain adalah menjadi garam yang harus dijaga agar tetap asin. Menjadi garam disini berarti , setiap pengikut Yesus harus membuat hidupnya sedemikian rupa sehingga berarti dan berguna bagi sesama, KehadiranNya harus dialami sebagai kahadiran yang menampakkan kehadiran Yesus , yang selalu mengasihi , mencintai . Peka, bela rasa dan penuh perjatian. Sumber: Berjalan bersama Sang Sabda 2013

Advertisements
%d bloggers like this: