Renungan harian 3 September 2013- Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Tes 5:9),

Selasa, 3 September 2013
PEKAN BIASA XXII
Pw St. Gregorius Agung, Paus PujG (P).
Bacaan I: I Tes. 5:1-6,9-11
Mazmur: 27:1.4.13-14; R:13
Bacaan Injil: Luk. 31-37

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah. ” Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: “Diam, keluarlah dari padanya!” Dan setan itupun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar.” Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.

Renungan
Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Tes 5:9), demikian dikatakan Rasul Paulus kepada jemaat si Tesalonika. Ada dua gagasan dari pengajaran Paulus ini. Pertama, Allah menetapkan kita untuk selamat, bukan untuk menderita. Kedua, kita selamat karena Yesus Kristus. Apakah kita mengalami secara nyata keselamatan Allah dalam Yesus Kristus ini?

Dalam pengalaman hidup sehari-hari, ada banyak hal yang bisa menjadi penanda bahwa keselamatan Allah dalam Yesus itu masih bekerja. Kita masih bisa bangun pagi dengan sehat. Kita masih bisa mengerjakan pekerjaan kita. Kita masih bisa menikmati makan siang kita. Kita masih bisa bisa bertemu dan bersenda gurau dengan orang-orang yang kita kasihi. Semua itu hanya mungkin karena Yesus. Apakah kita selalu menyadari dan mensyukurinya? Sebagai orang-orang yang diselamatkan. Bagaimana kita perlu bersikap?

Sebagai orang yang diselamatkan kita harus menghindarkan diri dari pengaruh setan dan memilih melakukan hal-hal yang sesuai dengan martabat keselamatan yang sudah kita terima. Setan akan terus mengintai dan menunggu kesempatan. Saat kita lengah, dia akan merasuki kita. Agar kita tidak kerasukan setan sebagaimana orang yang disembuhkan Yesus hari ini, kita harus selalu berjaga-jaga. Bagaimana kita berjaga. Bagaimana kita berjaga? Kita bisa berjaga dengan selalu menyadari karya keselamatan Allah lewat diri kita, selalu memandang dan mensyukuri kalau segala segala sesuatu kita terima dari Tuhan, dan memperbanyak melakukan kebaikan, terlebiih kepada yang miskin dan menderita.

Doa: Ya Tuhan, bantulah aku agar selalu sadar bahwa Engkaulah Penyelematku dan mampukan aku untuk tetap setia dalam memperjuangkan kebaikan setiap hari. Amin.

Sumber : Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: