Renungan Minggu 1 September 2013-Sikap rendah hati itu Salah satu tanda orang yang beriman

Romo SutoNilai martabat manusia terletak pada kearifan hidup dan tidak pada kekayaan dan hal-hal yang duniawi (Bacaan pertama, Sir.3:17-18, 20, 28-29). Sebab kita telah diangkat sebagai anak Allah (manusia baru), yang meskipun masih hidup di dunia ini, tetapi kita dekat dengan Allah, benteng kekuatan kita (Bacaan kedua, Ibr.12:18-19, 22-24a). Maka selama di dunia ini sebagai orang beriman tidak sepantasnya mencari perlindungan lain, tetapi bersikaplah rendah hati, karena Allah akan membalasnya pada hari kebangkitan orang-orang saleh (Bacaan Injil, Luk.14:1, 7-14).

Pribadi manusia adalah pribadi sosial, yang untuk mengenal dirinya pun membutuhkan orang lain, dan sebagai ciptaan Allah tergantung sama sekali pada Allah. Orang yang menyadari keadaan dirinya seperti itu akan memiliki sikap rendah hati. Dalam budaya Jawa diajarkan ‘Andhap asor dhuwur wekasane’, artinya, (sikap) rendah hati itu akan membawa di kemudian hari kedudukan yang tinggi. Kedudukan itu bukan semata-mata pangkat atau jabatan, tetapi juga dihormati oleh masyarakat (terhormat). Ajaran ini sama dengan yang disampaikan Kristus ‘siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan’. Sebagai orang yang belum mengenal Kristus, ajaran itu sungguh mengagumkan, karena mengandaikan kesejatian manusia telah teraba.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-22 ini mengingatkan kita, bahwa di hadapan Allah manusia bukan apa-apa. Sebab ada dan apa yang dimilikinya serta segala kemampuannya adalah karunia Allah, pemberian Allah, untuk digunakan memperkenalkan Allah dan kebaikan-Nya dengan mewujudkan diri sebagai manusia, yang jati dirinya adalah gambar Allah. “Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang saleh”. Kita harus menyadari, bahwa sebenarnya manusia sudah tidak berdaya untuk menyelamatkan hidupnya. Namun Allah berkenan turun ke dunia meninggalkan kemuliaan-Nya untuk menolong manusia yang berada dalam kegelapan dan belenggu dosa, sehingga kehilangan bukan hanya arah hidupnya, tetapi juga nilai martabatnya sebagai manusia, yang memperoleh karunia mengelola dunia ini. Diciptakan sebagai pribadi, itulah panggilan manusia dan kesempurnaan pribadi itu terletak pada mengenal dirinya, mengenal jati dirinya sebagai gambar Allah dan melaksanakannya. Tetapi karena dosa, kita seperti orang buta, yang meraba-raba diri kita sendiri dalam kekelaman. Dan Kristus datang menarik kita kepada terang ilahi, mengangkat kita menjadi anak Allah. Kita sungguh perlu menyadari keadaan kita itu, agar kita tahu diri dan tahu terima kasih. Itulah yang diingatkan oleh rasul Paulus. “Saudara-saudara, kamu tidak mendekati gunung yang dapat disentuh dan api yang bernyala-nyala, kepada kekelaman dan angin badai…… Tetapi kamu telah sampai ke Bukit Sion, kota Allah yang hidup, Yerusalem,……. kepada Yesus, Putera Perjanjian Baru”. Bila kita menyadari keadaan kita seperti itu dan sebaliknya kebesaran, kebaikan dan kemurahan hati Allah, kita akan sungguh mengakui, bahwa kita bukan apa-apa di hadapan Allah. Maka dalam menghadapi kehidupan kita selama dalam peziarahan di dunia ini, kita akan menjalaninya dengan penuh keikhlasan. Melakukan sesuatu dengan ikhlas dan rendah hati itu akan terasa ringan dan menyenangkan, sebaliknya akan terasa berat dan menyakitkan bila dilakukan dengan terpaksa, apalagi dengan bersungut-sungut, meskipun yang memaksa itu perasaan ‘wajib’. Sebab melakukan sesuatu dengan rendah hati di hadapan Allah itu sama dengan mengakui kuasa Allah. “Makin besar engkau, makin patut kau rendahkan dirimu, supaya mendapatkan rahmat di hadapan Tuhan”.

Sadarkah kita, bahwa kita ini bukan apa-apa di hadapan Allah? (bdk. Luk.17:10).

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: