Renungan Minggu 26 Agustus 2013-“Mampu menerima tanda cinta yang pahit itu,…….. Tanda orang beriman”

 Romo SutoAllah menghendaki keselamatan semua orang, maka akan disebar utusan untuk mewartakan kemuliaan Allah (Bacaan pertama, Yes.66:18-21). Karena itu kita harus ingat bahwa Allah menghajar orang yang dicintai-Nya seperti mendidik anak, agar kita tidak putus asa bila menghadapi kesesakan             (Bacaan Kedua, Ibr.12:5-7). Maka usaha tanggap akan tanda cinta Allah yang secara duniawi tidak menyenangkan (pahit), haruslah menjadi perjuangan kita (Bacaan Injil, Luk.13:22-30).

 

Dalam budaya Jawa ada pemeo ‘Jer basuki mawa beya’, artinya ‘untuk selamat, hidup bahagia, itu membutuhkan beaya’. Beaya disini dalam arti luas, tidak harus berupa uang atau materi, tetapi juga rela menerima pengalaman yang tidak enak, kerja atau usaha keras. Sebab mengolah pengalaman hidup – dan semakin berat pengalaman itu semakin berarti – akan mengasah atau mempertajam suara hati menjadi semakin peka. Memang keselamatan yang diberikan Allah kepada kita manusia itu karunia, pemberian Allah yang gratis (latin: gratia). Bukan karena jasa manusia karunia itu diberikan, sehingga merupakan ganjaran. Tetapi itu tidak berarti lalu orang tidak perlu berbuat apa-apa. Allah memperlakukan manusia sebagai pribadi, bahkan juga tidak semata-mata seperti anak kecil. Sebagai pribadi manusia harus bebas menerima karunia Allah secara aktif dan kemudian merawatnya.

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-21 ini mengingatkan kita, bahwa tidak dikenal itu tidak akan disayang.

 

 

 

 

 

Allah, yang menciptakan kita untuk ikut menikmati kemuliaan-Nya, tidak akan dicintai manusia jikalau tidak dikenal.Karena itulah, disamping keinginan tahu itu tertanam dalam hati manusia, Allah juga mewahyukan diri dan mengutus Gereja-Nya untuk meneruskan wahyu Allah itu kepada semua orang dari segala zaman dan tempat. Memang ada kemampuan manusia mengenal adanya Allah, tetapi apa yang dapat dicapai manusia itu sangat sangat terbatas, seperti misalnya terbatas sebagai Pemberi hidup. Tetapi apa itu hidup, manusia hanya melihat tandanya, bukan kenyataan sebenarnya. Tampaknya pertanyaan kepada Tuhan Yesus, apakah orang yang diselamatkan itu hanya sedikit, berkaitan dengan pengenalan akan Allah itu. Allah itu tidak terbatas, maka bagi manusia yang terbatas tidak akan mampu mengenal Allah secara tuntas dan utuh. Manusia harus terus berusaha semakin dalam dan luas pengenalannya terhadap Allah. “Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetok-ngetok pintu sambil berkata : Tuan, bukakanlah kami pintu, dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu : Aku tidak tahu darimana kamu datang”. Sebagaimana juga yang disampaikan oleh rasul Paulus, bahwa kita, yang tidak pernah melihat cinta, hanya mengenal cinta dari tanda-tandanya. Dan tanda-tanda itu dapat berubah-ubah, bahkan seperti kebalikannya. Kita memang percaya bahwa Allah mencintai kita, tetapi pengertian itu harus terus diperdalam, diperkuat dan diperluas dengan berusaha tanggap akan tanda-tanda yang berbeda-beda itu. “Anak-Ku, janganlah mengabaikan ajaran Tuhan dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya. Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya sebagai anak”. Tanpa usaha mendalami dan memperluas pengenalan kita akan Allah, banyak terjadi, bila orang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan atau musibah, lalu marah kepada Tuhan, bahkan jikalau sedang enak, lupa akan Tuhan. Keselamatan manusia terjadi bila Allah menyatukan diri dengan manusia, tetapi Allah menyatukan diri-Nya kepada manusia yang mengenal dan mencintai-Nya. Karena pengenalan dan cinta kepada Allah akan menghasilkan pembenaran yang memberi damai sejahtera. Allah telah mewahyukan diri kepada kita, bahkan tidak hanya melalui nabi-nabi, tetapi melalui Sabda Allah yang menjadi Manusia. Allah telah mewahyukan diri dalam wujud manusia. Bagaimana pun memahami manusia yang tampak nyata dalam segala perilaku dan perbuatannya bagi kita jauh lebih mudah daripada penjelasan dengan kata-kata abstrak semata, meskipun pemeo ini benar ‘dalam laut dapat diduga, dalam hati siapa tahu’. ‘Jangan mengabaikan ajaran Tuhan’ disini sama dengan ‘jangan mengabaikan wahyu Tuhan’. Kita harus terus bergulat mendalami dan memperluas ajaran Tuhan itu. Jikalau Sabda yang menjadi Manusia itu adalah Yesus Kristus, kita akan dapat memahami nubuat nabi Yesaya. “Mereka itu akan membawa semua saudaramu dari antara segala bangsa sebagai kurban untuk Tuhan di atas kuda dan kereta dan di atas usungan, di atas bagal dan unta betina yang cepat, ke atas gunung-Ku yang kudus, ke Yerusalem….”.

 

Sadarkah kita, bahwa Allah menghendaki semua manusia selamat? Dan tugas kita pulalah, bukan hanya semakin dalam dan luas pengenalan kita akan Allah, tetapi juga kita harus meneruskan bukan hanya wahyu Allah tetapi juga usaha pendalaman dan perluasan pengenalan kita itu kepada semua orang?

 

          St. Sutopanitro, Pr

 

Advertisements
%d bloggers like this: