Renungan harian 18 Agustus 2013-”Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa  Aku harapkan api itu menyala.”

Minggu, 18 Agustus 2013
Pekan Biasa XX (H)
Sta. Helena; Sta. Beatrix da Silva de Meneses; B. Angelus Agustinus Mazzinghi

Bacaan I: Yer. 38:4–6.8–10
Mazmur: 40:2.3.4.18; R:14b
Bacaan I: Ibr. 12:1–4
Bacaan Injil: Luk. 12:49–53

“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung! Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya.”

Renungan

Dikisahkan, sesudah Agustinus bertobat, dia berpapasan lagi dengan wanita yang pernah akrab dengannya. Wanita itu memanggil:” Agustinus… Agustinus… Ini aku.” Agustinus meneruskan perjalannya dan tidak menjawab. Tetapi, wanita itu semakin kuat berteriak:” Agustinus… Agustinus… Ini aku.” Kali ini Agustinus menoleh dan berkata kepada perempuan itu: ”Yah… engkau adalah tetap engkau karena engkau belum berubah; tetapi aku bukan lagi aku karena aku sudah berubah”. Setelah pertobatannya, Agustinus menjadi manusia baru yang telah berubah.

”Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa Aku harapkan api itu menyala.” Api adalah suatu kekuatan yang luar biasa dan revolusioner. Barang apa pun yang terbakar atau dibakar tidak akan pernah menjadi seperti semula. Semuanya berubah dari segi bentuk maupun substansinya. Kayu yang terbakar akan berubah menjadi arang dan debu. Demikianlah Yesus mengharapkan dampak dari pewartaan-Nya. Dia berharap bahwa kabar gembira itu harus mampu mengubah kehidupan para pendengarnya secara radikal. Orang yang seperti itu tidak boleh mengatakan aku masih seperti dulu, melainkan aku bukan lagi aku karena aku sudah berubah.

Doa: Tuhan, kuatkanlah aku agar Firman-Mu yang kudengar setiap hari mampu meng ubah hidupku dari hari ke hari. Amin. Sumber: Ziarah Batin 2013
***

Advertisements
%d bloggers like this: