Renungan Minggu 4 Agustus 2013-“Tak ada yang lebih berharga dan berarti bagi manusia daripada HIDUP ABADI”

Romo SutoSegala jerih payah manusia mencari kekayaan duniawi adalah suatu kesia-siaan, bila tidak dimaksudkan untuk mencapai hidup abadi (Bacaan pertama, Pkh.1:2, 2:21-23). Sebab kita yang telah mengimani Kristus itu berarti telah mematikan diri dari segala sesuatu yang duniawi, hidup kita ialah Kristus, yang harus kita kembangkan untuk semakin memahami kebenaran sebagai gambar Allah (Bacaan kedua, Kol.3:1-5, 9-11). Sebagaimana diajarkan oleh Kristus, bahwa kekayaan duniawi ini akan kita tinggalkan dan akan dinikmati orang lain, bila kita meninggal dunia; orang yang kaya di hadapan Tuhan ialah dalam mencari kekayaan duniawi peduli terhadap sesama (Bacaan Injil, Luk.12:13-21).

Manusia diciptakan sebagai pribadi gambar Pribadi Allah Tritunggal, yang ditugaskan mengelola dunia ini. Dalam mengelola dunia ini manusia mengembangkan pribadinya sebagai gambar Pribadi Allah Tritunggal itu, yaitu sebagai pribadi sosial. Maka pengelolaan dunia itu juga mempunyai dimensi sosial. Dunia ini untuk kepentingan semua orang. Kita harus memperhatikan disini hal yang paradoksal itu, yaitu kemandirian pribadi manusia yang hanya terjadi dalam kebersamaan dengan orang lain dan terutama dalam ketergantungan pada Allah.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-18 ini mengingatkan kita, bahwa bekerja untuk mencari kebutuhan untuk hidup di dunia ini adalah langkah membangun pribadinya bersama dengan orang lain (sesama) menuju hidup sejati yang abadi dalam Allah. Salah satu ciri pribadi ialah mengenal dirinya sendiri, sehingga ia dapat berkata ‘Inilah aku!’. Tetapi manusia tidak dapat mengenal dirinya tanpa orang lain (bdk. Kej.2:23; waktu melihat makhluk-makhluk lain Adam hanya memberi nama, tetapi ketika melihat Eva, ia melihat dirinya sendiri pula, karena ia melihat yang sepadan dengannya. Dan sesudah itu baru memberinya nama sebagai simbol pribadi). Karena itulah pengelolaan yang dilakukan manusia terhadap dunia ini memiliki dimensi sosial. Maka hidup manusia sebagai manusia baik tergantung pada orang lain maupun terutama pada Tuhan (bdk.Mt.4:4). “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu”. Karena hidup di dunia ini hanyalah perjalanan, sehingga kebutuhan hidup di dunia ini juga akan kita tinggalkan seperti hidupnya sendiri, maka rasul Paulus mengingatkan kita akan apa artinya kita ini mengimani Kristus, yaitu bahwa kita telah menjadi manusia baru dalam Kristus sebagai anak Allah. Sekalipun kita masih hidup di dunia ini (dalam perjalanan), tetapi pandangan kita haruslah jauh ke depan, yaitu kepada hidup abadi. Artinya hidup baru sebagai anak Allah itu kita perbaharui terus menerus agar semakin menyerupai Kristus, yaitu Manusia Gambar Allah yang sempurna. Selama hidup di dunia ini kita terus menerus berjuang agar tidak terbelenggu oleh kekayaan duniawi. “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”. Hal itu pun telah tertulis dalam Kitab Suci, yang berupa nasehat pengkhotbah, agar jerih payah kita jangan merupakan hal yang sia-sia, yaitu bila kita melupakan bahwa hidup di dunia ini dan segala kekayaannya hanyalah langkah-langkah bersama orang lain untuk menuju hidup sejati, yaitu hidup abadi dalam Tuhan. “Sebab kadang-kadang seorang bekerja keras, menuntut kebijaksanaan, ilmu dan kepandaian, tetapi ia harus meninggalkan kebahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Itu pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dengan keinginan hatinya?”.

Apakah dengan beriman kita sungguh mencari dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan pengkhotbah itu?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: