Renungan 29 Juli 2013-Yesus menyampaikan perumpamaan tentang Kerajaan Allah

Senin, 29 Juli 2013
Pekan Biasa XVII
Sta. Marta, Maria, dan Lazarus, Sahabat Tuhan (P)
St. Simplisius; St. Faustinus dan Beatriks
Bacaan I: Kel. 32:15–24.30–34
Mazmur: 106:19–20.21–22.23; R:1a
Bacaan Injil: Mat. 13:31–35

Yesus membentangkan suatu per um­pamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: ”Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: ”Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: ”Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”

Renungan
Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Dalam perumpamaan ini, Kerajaan Allah dimengerti sebagai realitas atau suasana yang membuat nyaman, damai dan tenteram. Suasana tersebut membuat orang merasa enak betah berada di dalamnya. Seperti burung yang terlindung dengan nyaman dalam cabang-cabang pohon sesawi yang bertumbuh besar dan seperti ragi yang meresap dalam tepung terigu sehingga akan menjadi roti yang enak dinikmati. Suasana yang damai dan nyaman sangat penting untuk diciptakan. Semua orang perlu dan membutuhkan suasana tersebut karena dalam suasana tersebut orang bisa berkembang dan menikmati kebaikan Allah.

Mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah di tengah-tengah masyarakat adalah tugas dan panggilan kita semua sebagai pengikut Kristus. Sesuai dengan keberadaan dan kemampuan masing-masing, kita dipanggil untuk membangun suasana damai. Kedamaian dalam lingkup yang besar seperti masyarakat dan negara akan tercapai kalau dari masing-masing pribadi yang menjadi bagiannya mengupayakan perdamaian. Damai mulai dari diri kita sendiri kemudian berkembang dalam masyarakat dan negara. Marilah kita, memantapkan kemauan dan secara kreatif mengupayakan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.

Doa: Ya Allah, mampukan aku untuk ambil bagian dalam menghadirkan Kerajaan-Mu di tengah kehidupan masyarakat. Amin Sumber : Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: