Renungan Minggu 7 Juli 2013 -Kegembiraan sejati ialah Keselamatan Hidup Abadi

Romo SutoManusia diajak bersukacita atas Yerusalem, bukan karena Yerusalem atau bangsa Yahudi, melainkan karena dari Yerusalem mengalir kekayaan,  damai sejahtera dan keselamatan (Bacaan pertama, Yes.66:10-14a). Sebab keselamatan itu mengalir dari salib Kristus, yang menjadi kebanggaan rasul Paulus, meskipun hal itu bukan hanya berarti dunia disalibkan baginya, tetapi terutama karena ia disalibkan bagi dunia sebagai manusia baru (Bacaan kedua, Gal.6:14-18). Sebagaimana ditegaskan oleh Kristus kepada para murid-Nya yang baru selesai menjalankan perutusan-Nya, agar mereka bersukacita bukan karena mereka menaklukkan roh-roh jahat, melainkan kerena nama mereka tercatat        di surga (Bacaan Injil, Luk.10:1-12, 17-20).

 

Tak ada sesuatu pun yang lebih berharga bagi manusia kecuali hidup abadi. Maka karena benih hidup abadi hilang karena dosa, sedang dalam kedalaman hati manusia keinginan untuk hidup abadi tetap ada, manusia terus menerus merasakan konflik dalam dirinya yang merupakan dasar segala macam penderitaan. Maka kembalinya harapan untuk tetap dapat hidup abadi oleh salib Kristus, merupakan nilai tertinggi yang menggembirakan bagi manusia.

 

 

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-14 ini mengingatkan kita bahwa oleh salib Kristus, proses hidup manusia di dunia ini, yang menuju kematian karena dosa tidak dihapuskan, tetapi dijadikan sebagai jalan menuju hidup sejati yang juga memberikan kebahagiaan sejati. Sebab manusia harus mempertanggung-jawabkan dosanya dengan menerima dengan ikhlas akibatnya selama hidup       di dunia ini. Agar manusia dapat bekerjasama dengan Kristus mengembalikan proses hidupnya menuju hidup abadi, manusia perlu benar-benar menyadari kondisi dirinya seperti itu. Artinya, manusia menyadari perlunya mengubah dirinya secara radikal, sebab proses menuju kematian itu telah mempengaruhi orientasi hidupnya. Seperti yang terjadi pada para rasul, mereka gembira dan bangga karena mereka berhasil menaklukkan roh-roh jahat. Itulah orientasi manusia yang proses hidupnya mengarah kepada kematian. Sedang mereka dapat melakukan itu, karena Kristus dan yang terpenting bahwa apa yang mereka lakukan itu bukan hanya menyelamatkan orang lain, tetapi juga menyelamatkan diri mereka sendiri (bdk. Mt.25:31-40). “Namun demikian janganlah bersukacita  karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga”.  Bahkan perlu disadari, bahwa mengubah orientasinya secara radikal itu merupakan semacam ‘revolusi’, yaitu membongkar dan lalu membangun. Dalam membongkar itulah, manusia seperti menyakiti dirinya sendiri (bdk. Mt.16:24-27). Karena itu rasul Paulus menyatakan, bahwa ia membanggakan diri bukanlah karena ia orang Yahudi, sehingga dipilih oleh Kristus menjadi rasul-Nya, tetapi karena ia mau menjadi manusia baru, yaitu menjadi milik Kristus. Dengan menjadi milik Kristus itulah ia berkata : “Saudara-saudara, sekali-kali aku tidak mau membanggakan diri selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia”. Ia memang sangat mencintai bangsanya (bdk.Rm.9:1-5) dan dalam orientasi manusiawinya, ia sangat bangga sebagai orang Yahudi, terutama atas agama Yahudi (lh. Gal.1:14). Tetapi imannya kepada Kristus mengubah orientasinya. Yang paling berharga dan utama baginya bukan bangsa Yahudi atau agama Yahudi, melainkan keselamatan, hidup abadi, yang mengalir dari salib Kristus. Hal ini telah tersirat dalam nubuat nabi Yesaya, yang menyampaikan bahwa  akan terjadi sukacita atas Yerusalem, karena dari Yerusalem akan mengalir keselamatan dan damai sejahtera, yang tepatnya dari salib Kristus yang mengurbankan diri di salib          di Yerusalem. “Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu; kamu akan dihibur di Yerusalem. Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang dan kamu akan mekar laksana bunga”.

 

Benarkah bahwa harapan akan hidup abadi, akan keselamatan, adalah unsur hakiki kegembiraan iman kita kepada Kristus?  Ataukah kita gembira dan bangga semata-mata sebagai orang katolik?

 St. Sutopanitro, Pr

 

Advertisements
%d bloggers like this: