Renungan Minggu 30 Juni 2013 -Mengimani Kristus berarti mengikatkan diri seutuhnya kepada Kristus.

Romo SutoHanya berkat pertolongan Allah, yaitu penerangan dan bimbingan Roh Kudus manusia mengetahui (meski masih dalam arti meraba-raba) kehendak dan rencana Allah (Bacaan pertama, Keb.9:13-18). Seperti rabaan rasul Paulus, bahwa Onesimus sebentar dipisahkan dari Filemon adalah rencana Allah, agar dengan sukarela Filemon menerima kembali Onesimus sebagai saudara, tidak lagi sebagai budak (Bacaan kedua, Flm.9b-10, 12-17). Sebab menjadi pengikut Kristus itu harus total, tak siapa dan apa pun, termasuk dirinya sendiri, boleh lebih diutamakan daripada Kristus (Bacaan Injil, Luk.14:25-33).

Kristus adalah Alpha dan Omega. Tetapi bagi manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, menjadikan Kristus sebagai Alpha dan Omega untuk mewujudkan diri sebagai gambar Allah, kejasmaniannya merupakan penghalang utama, sebab bagaimanapun tubuh manusia bukan hanya bagian dari jati diri manusia sebagai gambar Allah, tetapi juga bagian dari dunia ini. Mengembalikan fungsi tubuhnya, yang memiliki dorongannya sendiri (nafsu jasmani), semata-mata untuk fungsi sebagai gambar Allah, merupakan hal yang radikal bertolak belakang dengan dorongan nafsu itu. Tetapi itulah yang harus dilakukan manusia, bila mau mewujudkan diri sebagai gambar Allah. Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-23 ini mengingatkan kita, bahwa manusia itu harus merohanikan tubuhnya, yaitu menjadikan dorongan nafsu yang mencari kesenangan, kenikmatan dan kepuasan itu menjadi tanda cinta, tanda dorongan roh. Cinta itu kasih, memberi, sedang nafsu itu menguasai, memiliki. Cinta itu membebaskan, sedang nafsu itu membelenggu.
Manusia bukan hanya membutuhkan strategi, tetapi juga membutuhkan taktik yang jitu menghadapi perubahan yang dapat terjadi setiap saat, agar kedua dorongan yang bertolak belakang itu tidak mengombang-ambingkan dirinya. “Demikian pulalah tiap-tiap orang diantara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”.

Itulah strategi yang harus kita gunakan. Namun demikian cinta manusia telah tercemar dosa pula, sehingga untuk mengendalikan nafsunya menjadi lebih sulit, bahkan dapat hanyut dalam dorongan nafsu. Dalam mencintai sesama, tanpa sadar bukan memberi tetapi mau menguasai, mau memperbudak, karena bagaimanapun sebagai pribadi sosial setiap orang membutuhkan orang lain. Disini dilupakan, bahwa di hadapan Allah semua orang sama. Tidak demikian rasul Paulus terhadap Onesimus, ia tidak mau menganggapnya sebagai budak. Karena itu ia menyerahkan kembali kepada Filemon dan mengatakan : “Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau juga menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang terkasih….. baik secara manusia maupun di dalam Tuhan”.

Mengimani Kristus haruslah menggunakan taktik, yaitu menggunakan orientasi Kristus, yang memerintahkan agar kita mencintai Allah dengan seluruh kekuatan yang ada pada kita dan mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Dan ini berarti kita harus memurnikan cinta kasih kita dengan cinta kasih Allah sendiri. Kita membutuhkan Roh Kristus, yang menuntun Kristus mentaati kehendak Allah Bapa sampai di kayu salib, agar kita pun mampu mengendalikan nafsu kita. “Siapa gerangan sampai mengenal kehendak-Mu, kalau Engkau sendiri tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan jika Roh Kudus-Mu dari atas tidak Kau utus? Demikianlah diluruskan lorong orang yang ada di bumi, dan kepada manusia diajarkan apa yang berkenan pada-Mu, maka oleh kebijaksanaan mereka diselamatkan”.
Sadarkah kita, bahwa mengimani Kristus itu berarti menjadikan Kristus bagi diri kita sebagai Alfa dan Omega, sebagai segala-galanya?

RD St. Sutopanitro

Advertisements
%d bloggers like this: