Renungan harian 25 Juni 2013-”Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu. “

Selasa, 25 Juni 2013
Pekan Biasa XII (H)
St. Gulielmus; Sta. Febronia
Bacaan I: Kej. 13:2.5–18
Mazmur: 15:2-3ab.3cd–4ab.5; R:1a
Bacaan Injil: Mat. 7:6.12-14

”Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu. Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”

Renungan

Sebuah sekolah yang didirikan oleh salah satu perusahaan swasta mengembangkan model pendidikan dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi. Suatu ketika tim peninjau berencana mendatangi sekolah itu untuk melakukan penelitian sejauh mana sekolah itu memenuhi standar pendidikan nasional. Maka, pihak perusahaan pemilik sekolah itu mengusahakan agar sekolahnya terlihat layak dan pantas sebagai tempat pendidikan. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengganti nilai rata-rata setiap murid menjadi lebih tinggi. Sekolah itu melakukan kebohongan dari kecurangan. Tidak mengikuti prosedur yang berlaku, tidak jujur dalam mengembangkan sistem kualitas pendidikan.
Injil hari ini mengatakan kepada kita bahwa kejujuran adalah bentuk radikal hidup bersama dengan Yesus. Yesus melalui para murid-Nya berpesan agar umat-Nya jangan menggadaikan dan menjual kemuliaan hanya karena harta yang dapat hilang dan musnah. Harta yang paling Agung adalah iman kita, dengan segala risiko yang mesti kita hadapi. Jalan yang sempit, pengap dan tak manusiawi sekalipun harus kita lalui untuk dapat sampai kepada terang itu, yaitu Yesus Kristus, Juru Selamat kita. Jika kita menggadaikan iman kita, maka kita akan kehilangan cara hidup yang baik. Kita seharusnya jujur kepada diri sendiri untuk membangun sebuah bangunan harapan, cita-cita, dan cinta menuju kebahagiaan.
Doa: Allah yang penuh kasih, begitu banyak tantangan dan hambatan dalam mem per tahankan kebenaran sejati seperti yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Tetapi, aku percaya bahwa Engkau selalu besertaku. Engkau tak akan membiarkan anak-Mu ini terlantar. Semoga berkat karunia-Mu, aku selalu Engkau kuatkan di dalam menapaki jalan kebenaran ini. Amin. Sumber: Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: