Renungan Minggu 23 Juni 2013 – “Mengimani KRISTUS berarti ikut ambil bagian pada salib KRISTUS”

Romo SutoNabi Zakharia menubuatkan, bahwa Mesias yang menunjukkan belas kasih Allah ditikam oleh keturunan Daud dan penduduk Yerusalem, namun Allah akan membangkitkan penyesalan dan pertobatan mereka (Bacaan pertama, Za.12:10-11). Setiap orang yang mengimani Kristus menjadi putera-puteri Allah, menjadi milik Kristus dan menjadi keturunan Abraham; mereka berhak menerima janji Allah akan penyelamatan tanpa dibeda-bedakan (Bacaan kedua, Gal.3:26-29). Tetapi begitu para rasul menyatakan imannya akan Yesus sebagai Mesias, Ia memberitahu, bahwa Ia akan banyak menderita, ditolak dan dibunuh; dan siapa yang mau menjadi pengikut-Nya harus menempuh jalan yang sama (Bacaan Injil, Luk.9:18-24).

Dalam menyelamatkan manusia Kristus tetap memperlakukan manusia sebagai pribadi yang berdaulat. Manusia diajak oleh Kristus secara aktif menyambut inisiatif Allah itu. Sebab segalanya adalah pemberian Allah. Manusia menyalah-gunakannya, tetapi Allah masih berkenan menolong, yaitu mengampuni. Tanpa inisiatif Allah, manusia sudah tidak berdaya. Sedangkan sebagai pribadi, manusia harus mempertanggung-jawabkannya. Gratis ya gratis, tetapi kan masih memiliki kehendak dan hati untuk menerima pemberian Allah itu dengan penuh syukur, yang diungkapkan dengan penyerahan diri dan rela menanggung akibat dosanya.
Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-12 ini mengingatkan kita, bahwa Tuhan membimbing manusia kepada kemerdekaan sejati, yang bagi manusia tidak ada kemerdekaan tanpa disiplin (taat dan setia) dan tidak ada disiplin tanpa kemerdekaan. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkan nyawanya”.
Jikalau dikatakan bahwa Allah memperlakukan manusia sebagai pribadi yang berdaulat, sepintas tuntutan Kristus itu tampaknya bertolak belakang. Sabda Tuhan itu mengandung dua sisi, yaitu kemerdekaan dan disiplin. Manusia hanya akan merasakan kebebasan sejati sebagai pribadi, bila manusia taat dalam menghidupi hidupnya sesuai dengan jati dirinya sebagai manusia. Manusia bukan malaikat, tetapi manusia juga bukan hewan. Kita harus ingat, bahwa tanpa pertolongan Allah manusia hanya akan binasa, karena terbelenggu dalam kuasa maut. Maka menyambut inisiatif Allah menyelamatkan manusia itu merupakan pembebasan, yang harus disambut dengan penyerahan total, karena hanya jalan itulah satu-satunya (Yoh.14:6; bdk.Mt.7:13), jadi termasuk menyerahkan kehendaknya, dalam arti disiplin. “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah “. Memang manusia sendiri yang telah menolak Kristus, Pelaksana janji Allah dalam membebaskan manusia dari belenggu dosa dan maut. Manusia sendiri yang membunuh Kristus. Apa yang tampak itu merupakan penolakan manusia atas inisiatif Allah, atas cinta dan perkenanan-Nya. Namun Allah tetap mencintai manusia, karena itu tetap berkenan mengampuni manusia. “Aku akan mencurahkan roh belas kasih dan roh permohonan atas keluarga Daud dan penduduk Yerusalem dan mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam, dan akan meratapi Dia seperti…. “.
Allah sungguh memaklumi kerapuhan manusia, yang tidak Ia kehendaki binasa. Allah berkenan turun tangan, mengutus Putera Tunggal-Nya menjadi Manusia, agar atas nama manusia, mengajak, memberi teladan dan menggembalakan manusia menyambut inisiatif Allah membebaskan manusia dari belenggu dosa dan maut.

Sadarkah kita betapa baiknya Allah terhadap manusia? Lalu apakah kita masih ragu akan jalan salib yang ditunjukan-Nya?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: