Renungan Minggu 16 June 2013 – IMAN yang azas dasarnya tobat itu mendatangkan pengampunan

Romo SutoKetika raja Daud ditegur oleh nabi Natan karena sengaja membiarkan Uria gugur agar isterinya dapat ia ambil, ia menyatakan penyesalan dan pertobatannya, maka nabi Natan menyatakan Allah mengampuni dosanya (Bacaan pertama, 2Sam.12:7-10, 13). Demi hukum Taurat, rasul Paulus rela disalibkan dengan Kristus, agar Kristus hidup dalam dirinya, sehingga kehidupannya di dunia ini merupakan pelaksanaan imannya kepada Kristus (Bacaan kedua, Gal.2:16, 19-21). Bertobat atas dosa-dosanya yang begitu berat dan banyak, yang disadarinya memperoleh pengampunan, akan membangun iman yang semakin bulat dan cinta yang semakin besar (Bacaan Injil, Luk.7:36-8:3).

Bertobat dan beriman itu satu realita yang memiliki dua sisi. Dilihat dari sisi yang satu disebut bertobat dan dari sisi yang lain disebut beriman. Bertobat itu bukan hanya penyesalan, yang tidak diikuti perubahan. Bertobat yang sebenarnya adalah suatu berubahan, bahkan perubahan orientasi hidup yang radikal. Maka bila iman itu didasarkan pada tobat, beriman itu berarti menghidupi hidupnya sesuai dengan orientasi pertobatannya, demikian pula bertobat itu berarti mengubah orientasi hidupnya sesuai dengan orientasi imannya. Oleh karena itu, bila tobat dan iman itu satu akan menyelamatkan (dosanya diampuni dan hidupnya disatukan dengan hidup ilahi).

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-11 ini mengingatkan kita, bahwa orang yang mengakui kesalahannya, dan mengetahui kesalahannya dimaafkan, sebagai pribadi yang tahu diri akan berterima kasih, artinya ia mengakui pengampunan itu tanda cinta kepadanya dan ia mau membalas juga dengan mencintainya. Maka orang yang tahu terima kasih itu berarti secara tersirat mau membangun cinta. Semakin besar kesalahannya, semakin sungguh-sungguh orang membangun cinta. Dan dengan membangun cinta itu kembali harapan akan pengampunan semakin besar. “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberi Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya ……… Dosanya yang banyak itu sudah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih”. Apa yang dilakukan wanita itu terhadap Kristus adalah ungkapan cinta dan imannya kepada Kristus. Itulah iman yang hidup, yang menunjukkan perubahan hati yang radikal, yaitu pertobatan. Karena itu Kristus berkata kepadanya: “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat”. Meski wujudnya berbeda, apa yang dilakukan wanita itu tanpa kata-kata, pada hekekatnya sama dengan yang dikatakan rasul Paulus. Kehadiran Allah itu menyucikan. Maka kehadiran Allah pada orang yang berdosa itu juga berarti pengampunan. Allah berdamai dengan orang yang berdosa itu. Pertemuan wanita dengan Kristus itu merupakan pengampunan dan penyuciannya, demikian pula pertemuan rasul Paulus dengan Kristus di jalan ke Damsyik. “Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Putera Allah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih karunia Allah”. Sekalipun Daud itu seorang raja, namun ketika ditegur oleh nabi Natan, apa yang sebenarnya ia lakukan terhadap Uria, salah seorang panglimanya, karena ia menginginkan isteri Uria, ia tidak marah atau mungkir atau membela diri, melainkan mau mengakui kesalahannya sebagai dosa terhadap Allah. Satu kata pengakuan itu cukup bagi Allah yang mengetahui hatinya yang bertobat. “Aku telah berdosa terhadap Tuhan”. Dan Natan berkata kepada Daud : “Tuhan telah mengampuni dosamu. Engkau tidak akan mati”.

Sadarkan kita akan kerahiman dan belas kasih Allah terhadap manusia yang begitu rapuh itu?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: