Renungan Minggu 9 Juni 2013-IMAN yang dilaksanakan merupakan PEWARTAAN yang berdaya dan berhasil-guna

Janda, tempat nabi Elia menumpang di rumahnya, menjadi yakin bahwa nabi Elia adalah abdi Tuhan, setelah nabi Elia memohonkan kepada Tuhan agar anak janda satu-satunya yang meninggal itu dihidupkan kembali (Bacaan pertama, 1Raj.17:17-24). Demikian pula rasul Paulus mengakui, bahwa ia adalah penganiaya jemaat Allah, tetapi begitu menerima Injil langsung dari Kristus, ia langsung melaksanakannya dan usahanya terhadap bangsa-bangsa bukan Yahudi tidak sia-sia (Bacaan kedua, Gal.1:11-19). Sebab Kristus datang ke dunia ini untuk menunjukkan kepada manusia bahwa Ia bertugas menyampaikan belas kasih Allah kepada manusia, yang tidak menghendaki manusia mati karena dosanya (Bacaan Injil, Luk.7:11-17).

Sebagaimana dikatakan oleh Kristus sendiri, bahwa iman memberikan kekuatan yang luar biasa dan tidak ada sesuatu yang mustahil jikalau orang beriman (Mt.17:20), maka bila orang melakukan segala sesuatu berdasar pada imannya, apa yang dilakukannya memiliki wibawa terhadap orang lain yang hatinya terbuka terhadap Tuhan.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-10 ini mengingatkan kita, bahwa pada hakekatnya yang disebut beriman itu mendasarkan seluruh kehidupannya pada apa yang diimani.

Tetapi bagi manusia yang telah tercemar dosa, mendasarkan seluruh kehidupannya pada apa yang diimani itu merupakan perjuangan yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
Sebab dorongan tubuh manusia selalu akan terus ‘menghambat’, karena cenderung berjalan sendiri. Mendasarkan seluruh kehidupan pada imannya itu suatu akses, suatu penguasaan diri yang sempurna. “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata : “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”.
Kata-kata ‘Aku berkata kepadamu’ menunjukkan suatu keyakinan yang kuat dan bagi kita manusia biasa hal itu menunjukkan iman yang bulat. Sebagaimana dialami oleh rasul Paulus, begitu ia mendengar langsung sabda Kristus, sekalipun ia sedang dalam melakukan penganiayaan jemaat Allah, namun ia tidak dapat menolak, bahkan langsung pula ia melaksanakan perutusannya mewartakan Kristus kepada bangsa bukan Yahudi, yang termasuk dalam iman yang baru ia terima itu. Apa yang dilakukan rasul Paulus adalah gambaran akan iman yang merupakan dasar seluruh kehidupannya. “tetapi waktu Ia, …… memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Putera-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia…… tiga tahun kemudian aku pergi ke Yerusalem mengunjungi Kefas…..” .
Itulah sebabnya, mengikuti jalan pikiran dan segala sesuatu yang dilakukan rasul Paulus dalam membaca surat-suratnya, kita dapat merasakan perbedaan yang cuikup mencolok dengan jalan pikiran dan apa yang dilakukan oleh orang-orang lain. Itulah jalan pikiran dan kehidupan yang didasarkan pada iman. Hal itu sungguh disadari oleh rasul Paulus sendiri (bdk. 1Kor.1:23), sebab beriman itu berarti hidup dengan mengikuti perubahan orientasi hidupnya dari orientasi manusiawi ke orientasi Kristus (Allah). Perubahan orientasi yang radikal seperti yang terjadi pada rasul Paulus itu juga terjadi pada janda, di mana nabi Elia menumpang di rumahnya. Meskipun janda itu telah percaya bahwa nabi Elia adalah abdi Allah, tetapi apa yang ia harapkan darinya ternyata masih berorientasi manusiawi. “Apakah maksudmu datang kemari, ya abdi Allah? Sungguhkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?”. Ia menganggap kematian anaknya adalah hukuman atas kesalahannya. Akan tetapi setelah nabi Elia menyerahkan anaknya yang telah mati dalam keadaan hidup lagi, ia berkata : “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan sabda Tuhan yang kauucapkan ini benar”. Allah tidak menghendaki manusia binasa, justru sebaliknya, dengan mengutus para nabi-Nya untuk mengingatkan manusia agar bertobat, bukan untuk membinasakan. Maka sebagai nabi tugas nabi Elia juga mengingatkan janda itu agar bertobat. Tampaknya janda itu menerima peringatan nabi Elia, tetapi ia belum mengubah dirinya sungguh-sungguh. Begitu nabi Elia mengembalikan anaknya yang telah mati itu hidup kembali, orientasi hidupnya baru sungguh-sungguh berubah.

Apakah kita sungguh telah mengubah orientasi hidup kita sebagai orang beriman?
St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: