Renungan harian 8 juni 2013 -” sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.”

Sabtu, 8 Juni 2013
Pekan Biasa IX
Pw Hati Tersuci SP Maria (P)
Takhta Kebijaksanaan; St. William; B. Maria Drozte-Fischering; B. Nikolaus Gesturi

Bacaan I : Tob. 12:1,5–15,20
Mazmur : Tob. 13:2,6,7,8
Bacaan Injil : Mrk. 12:38–44

Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: ” Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Renungan

”Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.” Ini adalah salah satu dari Sabda Bahagia Yesus. Dalam konteks keagamaan, suci berarti bebas dari dosa, terhindar dari noda, murni tanpa cela. Pribadi yang bebas dari dosa akan berbahagia karena dia akan melihat Allah. Adakah pribadi demikian? Hari ini kita memperingati Hati Tersuci Santa Perawan Maria. Karena kesuciaan hatinya, Perawan Maria mendapat karunia paling istimewa, menjadi Bunda Putra Allah, Bunda Penebus umat manusia. Perawan Maria tidak hanya melihat Allah, Allah justru hadir secara nyata dalam dirinya.

Dalam kisah Injil hari ini, seorang janda miskin memberi dari kekurangannya. Sebuah aksi yang lahir dari sebuah ketulusan atau kesucian hati. Sebuah aksi—yang dikendaki Allah—di tengah himpitan kemunafikan para ahli Taurat. Sebuah aksi yang menarik perhatian Yesus, Putra Allah. Sama persis yang dialami Maria, Bunda Yesus, kesucian hatinya menarik perhatian Allah dan menjadikan Perawan Maria pelabuhan yang pantas bagi Sang Putra untuk berkarya di dunia ini.

Menarik bahwa kisah Maria dan si janda miskin berada pada latar kehidupan sosio-religius yang sama, latar yang penuh dengan kedegilan dan kemunafikan manusia. Sebuah latar kehidupan yang mirip dengan yang kita alami sekarang. Akan tetapi, belajar dari Santa Perawan Maria, kita tidak akan kehilangan perhatian Allah apabila kita mengusahakan kesucian hati dalam hidup setiap hari.

Doa: Allah Yang Mahabaik, semoga berkat doa Santa Perawan Maria, aku selalu mampu mampu mengupayakan kesucian hati dalam setiap karyaku. Amin. Sumber: Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: