Renungan Minggu 2 juni 2013 – Hidup manusia yang sejati adalah Kristus sendiri

Romo SutoImam Agung Melkisedek mempersembahkan roti dan anggur sebelum memberkati Abram, dan menyatakan Allahlah yang mengalahkan musuh Abram, yang melambangkan hidupnya dari Allah (Bacaan pertama, Kej.14:18-20). Maka menyantap Tubuh dan minum Darah Kristus yang berupa roti dan anggur itu menunjuk, bahwa manusia hidup dari wafat dan kebangkitan Kristus, yang harus diteruskan kepada semua orang sampai akhir zaman (Bacaan kedua, 1Kor.11:23-26). Sebagaimana perintah Kristus kepada para rasul, agar mereka yang harus memberi makan orang banyak yang bukan hanya kelaparan akan makanan jasmani, tetapi juga lapar akan kebenaran, yaitu Kristus (Bacaan Injil, Luk.9:11b-17).

Yang dimaksud oleh Kristus dengan mengajarkan kerajaan Allah adalah, sebenarnya Ia mau mengajarkan arti hidup sejati yang abadi bagi manusia, yang tidak lain daripada Allah sendiri. Karena itu, Kristus menyatakan bahwa Ia adalah roti hidup yang turun dari surga, yang harus diberikan oleh Gereja kepada umat manusia. Itulah hakekat dari karya penyelamatan Kristus, yang harus disampaikan oleh Gereja kepada umat manusia sampai akhir zaman.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini mengingatkan kita, bahwa kesatuan manusia dengan Allah adalah azas dasar seluruh kemanusiaan. Jadi juga azas dasar hidup dan keselamatan manusia. Karena Kristus itu Allah Putera yang menjadi Manusia, Kristus adalah Manusia sejati, Sang Manusia (Yoh.19:5).

Kristus adalah kesatuan hidup manusiawi dengan hidup Ilahi. Maka Kristus menyatakan, bahwa Ia adalah Alfa dan Omega. Kristus adalah segala-galanya bagi hidup, keselamatan dan kemanusiaan manusia. Memang kita menyadari, bahwa untuk dapat memahami makna hidup sejati yang sebenarnya itu, Allah menuntun manusia dengan penuh kesabaran berlangsung berabad-abad. Baru setelah di mata Tuhan manusia mampu memahaminya, Tuhan menyampaikan kebenaran sejati, yang tidak lain daripada Sabda yang memberi hidup (bdk.Yoh, 17:17 : Menguduskan hidup itu sama dengan melaksanakan hidup sejati). Bahkan sebelum Kristus disalibkan, Ia juga masih menyatakan, bahwa banyak hal yang harus diajarkan-Nya kepada para murid, tetapi saat itu mereka belum mampu memahaminya (Yoh.16:12). Roh Kudus yang akan diutus Allah Bapa akan mengajarkannya, agar Gereja memahami makna sabda Kristus : “Kamu harus memberi mereka makan!”. Perintah Kristus ini bukan hanya harus memberi makan roti karena mereka lapar, tetapi Kristus juga menghendaki agar nanti para murid memberikan diri-Nya kepada manusia yang mendambakan hidup abadi, mendambakan keselamatan. Maka sesudah peristiwa itu Kristus menyatakan dengan tegas : Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh.6:35). Ungkapan ‘tidak lapar dan tidak haus’ untuk menunjukkan hidup, untuk hidup manusia harus datang dan percaya kepada-Nya. Ekaristi adalah tanda Kurban Kristus yang menyerahkan hidup-Nya di salib untuk memberi hidup sejati kepada manusia. Kehidupan di dunia ini adalah tanda akan hidup sejati, atau yang juga kerap dikatakan sebagai perjalanan menuju hidup sejati. Selama dalam perjalanan atau peziarahan manusia di dunia inilah Kristus menyediakan diri-Nya sebagai makanan dan minuman untuk hidup sejati itu. Itulah Sakramen Ekaristi, tanda akan Tubuh dan Darah-Nya yang memberi hidup. Maka rasul Paulus mengatakan : “Sebab setiap kali kamu makan roti itu dan minum dari piala itu, kamu mewartakan wafat Tuhan sampai Ia datang”. Oleh karena itu, perintah agar para rasul yang harus memberi makan lima ribu orang lebih itu juga mempunyai arti kiasan. Gereja harus memberikan Kristus kepada umat manusia sebagai makanan dan minuman sejati. Karena itulah dalam perkembangannya Gereja mempersembahkan kurban Ekaristi setiap hari, menganjurkan umat katolik ikut mempersembahkannya, dan mewajibkannya setiap hari Minggu dan hari raya yang disamakan dengan hari Minggu, serta menerima komuni (menerima tubuh dan darah Kristus) pada waktu Paskah. Ekaristi adalah makanan untuk hidup sejati bagi umat katolik. Maka apa yang telah diterima Gereja dari Kristus itu haruslah diteruskan kepada semua orang, sebab Kristuslah makanan sejati bagi orang yang lapar dan haus akan kebenaran. Dan kebenaran itu tidak lain dari Sabda Allah, Kristus sendiri (Yoh.17:17). Hal itu telah di pralambangkan oleh peristiwa Imam Agung Melkisedek, raja Salem, yang mempersembahkan roti dan anggur untuk memberkati Abraham, yang atas nama Allah sendiri mengalahkan musuhnya, sehingga ia hidup dan selamat.

Sadarkah kita bahwa perintah itu adalah perintah untuk memberikan Kristus, yang telah menyatu dengan kita karena iman, kepada semua orang, agar mereka juga hidup dan selamat?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: