Renungan harian 28 Mei 2013-Murid Kristus

Selasa, 28 Mei 2013
Pekan Biasa VIII (H)
Sta. Margaretha Pole; St. Wilhelmus; St. Bernardus dr Montjoux; St. Germanus dr Paris

Bacaan I : Sir. 35: 1–12
Mazmur : 50:5-6.7–8.14.23; R:23b
Bacaan Injil : Mrk. 10:28–31

Berkatalah Petrus kepada Yesus: ”Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Renungan

Walaupun telah berkali-kali kita diingatkan dalam khotbah di Gereja dan berbagai macam renungan bahwa keikutsertaan kita menjadi murid Kristus tidak bisa diperlakukan seperti perdagangan: mendapatkan untung dan menjauhi kerugian, tetapi toh godaan seperti itu masih juga sering muncul dalam pikiran dan hati kita. Para murid, diwakili oleh Petrus juga mau menghitung-hitung keuntungan dari mengikuti Yesus. Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang mengikuti Dia dan bersatu dengan-Nya akan mendapatkan kelimpahan berkat. Tetapi, Yesus juga mengingatkan para murid bahwa bukan berarti mereka yang terdahulu akan menjadi yang pertama, justru sebaliknya akan menjadi yang terakhir. Artinya, di atas segalanya Tuhan mempunyai penilaiannya sendiri. Bukan yang membangun prestasi sendiri itu yang akan dimahkotai, tetapi yang datang dengan tangan kosong, hampa, tak membanggakan keberhasilan apa-apa, yang tidak merasa berbuat sesuatu, tetapi hanya mengaku sebagai hamba yang tak berguna. Mereka itulah yang mendapatkan balasan dengan takaran yang mantap, padat, dan melimpah.

Kalaupun banyak hal baik dan perbuatan-perbuatan baik yang telah kita lakukan berdasarkan iman kepada Kristus, hendaknya tidak kita jadikan alat untuk membuat perhitungan dengan Tuhan. Kita harus memiliki kerendahan hati sebagai seorang hamba, yang seluruh hidup bergantung pada kemurahan hati Allah.

Doa: Tuhan, betapa mudahnya aku jatuh dalam kesombongan, yang membawa malapetaka bagi diriku sendiri. Ajarlah aku agar selalu ingat untuk bersikap rendah hati di hadapan-Mu dan sesama. Amin.

Sumber; Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: