Renungan Minggu 26 Mei 2013- Oleh Kristus, manusia menerima hidup dari Allah dan oleh Roh Kudus manusia mencintai hidup

Romo SutoSejak sebelum dunia diciptakan karya Allah sungguh bijak, demikian pula karya penciptaan-Nya dan karya Allah memperlakukan ciptaan-Nya, terutama terhadap manusia (Bacaan pertama, Ams.8:22-31). Sebab manusia dapat mengimani, bahwa hidup diterimanya dari Allah karena kasih karunia-Nya, dan dalam kasih karunia Allah itu manusia ada dan hidup serta mampu bermegah dalam hal apa pun yang dihadapi, termasuk kesengsaraan (Bacaan kedua, Rm.5:1-5). Semua itu dilakukan Allah terhadap manusia selangkah demi selangkah oleh Kristus sampai saatnya manusia telah mampu menangkap segala yang harus dimengerti, yang diajarkan oleh Roh Kudus dalam terang cinta kasih-Nya (Bacaan Injil, Yoh.16:12-15).

Jikalau direnungkan, proses penciptaan, yang kemudian beralih menjadi proses penyelamatan yang terjadi pada manusia, terlaksana sangat mengagumkan. Manusia yang diciptakan sebagai pribadi diharapkan oleh Allah yang menciptakannya agar dengan sadar berdasar hidup yang diimaninya manusia mengenali dirinya dan mengembangkannya dengan dan dalam cinta kasih. Akhirnya manusia mengetahui, karena asal dan tujuan hidupnya ialah Allah, apa artinya dan bagaimana seharusnya menghidupi hidup secara benar dan mencintainya dengan pula.

Pesan yang disampaikan Perayaan Ekaristi Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini mengingatkan kita, bahwa Allah itu Cinta Kasih, karena apapun, yang dilakukan Allah, dilakukan-Nya karena cinta dan terhadap kita selama masih di dunia ini adalah tanda dan ungkapan cinta-Nya.

Semua itu dilaksanakan Allah dengan penuh kebijakan, kesabaran dan rela menanggung risiko bila manusia mengikuti kemauannya sendiri. Secara manusiawi karya cinta kasih Allah itu tampak nyata pada seluruh kehidupan Kristus. Kristus adalah tanda cinta kasih Allah, yang mencurahkan hidup-Nya kepada manusia. “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari dirinya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang”.

Bagi kita yang mengimani Kristus, menghidupi hidup secara benar dan mencintai dengan benar itu bukan mengikuti kemauannya sendiri, melainkan mengikuti apa yang kita dengar dari Kristus. Dan itu pula yang akan dijelaskan oleh Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati kita. Sebagai pribadi, kita dapat tidak mendengarkan-Nya, kita hanya mendengarkan bisikan kemauannya sendiri. Karena itu cara Allah memperlakukan manusia seperti itu sungguh berisiko. Namun itulah cinta kasih, Tuhan tetap menghargai kebebasan manusia. Tetapi tidak boleh dilupakan, karena manusia diciptakan oleh, untuk dan dalam Kristus, maka adalah kebenaran, bahwa manusia semakin merdeka, jikalau semakin mengikuti apa yang diajarkan Kristus. Sebab hanya dengan cara itulah pribadi manusia menggambarkan Pribadi Allah Tritunggal. “Roh Kudus akan mewartakan kepadamu apa yang diterimanya daripada-Ku”. Itulah pula yang menjadi keyakinan rasul Paulus, yang begitu membanggakan, bahwa ia hidup bersama Kristus, karena di situlah ia merasakan damai sejahtera. Sebenarnya bila kita mengamati diri kita sendiri, kita pun akan membenarkan sikap itu. Setiap kali kita mau berbuat dosa, kita akan sembunyi-sembunyi.

Dan bila kita benar-benar telah berdosa, kita akan merasakan kegelisahan, tidak tentram, ada rasa takut dan sebagainya. Di situlah tanpa kita sadari kita kehilangan kebebasan, kita dibelenggu oleh dosa. Maka kebanggaan bersama dengan Kristus bukan hanya dalam hal-hal yang menyenangkan saja, tetapi juga dalam hal yang tidak menyenangkan pun merasakan damai sejahtera. Sebab apa yang dialami di dunia ini hanyalah tanda, dan semua itu tanda cinta Allah, yang memberikan kemuliaan-Nya kepada kita. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu kesengsaraan itu menumbuhkan ketekunan, dan ketekunan menumbuhkan tahan uji dan tahan uji menumbuhkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, …..”. Maka dapat kita simpulkan, bahwa kebijakan itu lahir dari cinta kasih, dan kebijakan itu melahirkan damai sejahtera dan damai sejahtera melahirkan kebahagiaan. “Tuhan telah menciptakan daku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala”. Segala sesuatu yang dikerjakan oleh Allah, dikerjakan-Nya dengan bijak, sehingga mengarah kepada kebahagiaan. “…. ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku”. Inilah personifikasi kebijakan yang menyertai Allah, yang dapat diterapkan pada Allah Putera juga.

Sadarkah kita akan maknanya, bahwa bila kita memulai sesuatu membukanya dengan tanda salib dan menutupnya juga dengan tanda salib, agar semua yang kita perbuat, kita lakukan sebagai manusia yang menggambarkan Allah Tritunggal?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: