Renungan Minggu 19 Mei 2013- Roh Kudus akan mengajar kita mencintai dengan cinta Ilahi

Romo SutoPencurahan Roh Kudus menyebabkan para rasul berbicara dengan bahasa cinta yang menarik orang untuk mendengarkan, bahkan menggerakkan hati mereka untuk menerima (Bacaan pertama, Kis.2:1-11). Maka bila Roh Kudus tinggal di dalam diri kita, Roh yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati itu, juga akan mengembalikan dorongan nafsu kita, yang mengarah kepada kematian itu, kepada kehidupan (Bacaan kedua, Rm.8:8-17). Sebab sebagai orang beriman kita harus melaksanakan perintah Kristus mencintai Allah dengan seluruh kemampuan dan mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri, yang hanya dapat kita lakukan dengan cinta yang telah dimurnikan oleh cinta Ilahi (Bacaan Injil, Yoh.14:15-16, 23b-26).  

Akibat dosa bukan hanya dorongan nafsu mau jalan sendiri lepas dari dorongan roh, yaitu cinta kasih, tetapi juga mencemari cinta manusia, sehingga nafsu sendiri disebut cinta, seperti misalnya ‘cemburu karena cinta’ atau ‘cinta itu buta’. Maka, untuk dapat mencintai sebagai gambar Allah dan terlebih sebagai anak Allah, manusia membutuhkan pertolongan Allah, yaitu pemurnian cintanya.

Roh Kudus adalah Cinta Kasih Allah yang sempurna, yang sama dengan Allah dan berdiri sebagai Pribadi ketiga. Sebagaimana tampak pada tujuh karunia Roh Kudus itu sama dengan sifat cinta kasih. Maka dengan pencurahan Roh Kudus Allah memurnikan cinta manusia.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Hari Raya Pentekosta ini mengingatkan kita, bahwa manusia yang tidak memiliki cinta kasih itu perbuatan dan perilakunya dapat dipastikan tidak manusiawi.

Sebagai Manusia, Kristus adalah Gambar Allah yang sempurna, apapun yang dilakukan Kristus menggambarkan Allah, karena Ia memang Allah. Dan karena Allah itu menghidupi hidup-Nya yang sempurna dengan dan dalam cinta kasih yang sempurna, Kristus adalah Gambar Cinta Kasih Allah yang sempurna. Maka mencintai Kristus sebagai Manusia idola, Manusia sempurna (Yoh.19:5) itu berarti mau menjadi manusia seperti Dia, yaitu menghidupi hidupnya dengan dan dalam cinta kasih. “…….. Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa demi nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”. Kristus datang untuk mengajarkan kita, bagaimana menghidupi hidup ini dengan dan dalam cinta kasih. Sebab kita harus ingat akan akibat dosa terhadap keadaan diri kita sebagai manusia. Berdosa itu meninggalkan Allah, maka akibatnya kerusakan, karena manusia ciptaan Allah. Salah satu kerusakan yang kita alami ialah dorongan tubuh (dorongan jasmani = nafsu) mau jalan sendiri dan arahnya adalah kebinasaan, kerusakan total. Kecenderungan manusia ini disebut oleh rasul Paulus ‘hidup menurut daging’ atau ‘hidup dalam daging’.

Tetapi kita telah mengimani Kristus, yang berarti telah menjadi milik Kristus, bahkan kita telah diangkat menjadi anak Allah. Karena itu kita harus hidup menurut Roh Kristus. “Tetapi jika Kristus ada di dalammu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam dirimu, maka Ia yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang diam di dalammu”. Itulah salah satu sisi karya penebusan Kristus, yaitu menolong manusia agar mampu menghidupi hidupnya dengan dan dalam cinta kasih. Pencurahan Roh Kudus, Sang Cinta Kasih Allah yang sempurna itulah kegenapan karya penebusan Kristus.

Sadarkah kita bahwa salah satu sisi penebusan Kristus ialah memurnikan cinta manusiawi kita, agar kita pun mampu menghidupi hidup kita dengan dan dalam cinta kasih               (bdk. Mt.5:46-48)?

 

        St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: