Renungan harian 21 Mei- ”Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Selasa, 21 Mei 2013
Pekan BIASA VII (H)
St. Eugenius de Mazenod, Usk.; St. Godrikus; St. Herman Yoseph; St. Kristoforus dr Magallanes Jara

Bacaan I : Sir. 2:1-11
Mazmur : 37:3-4.18-19.27-28.39-40; R: lih. 5
Bacaan Injil : Mrk. 9:30-37

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: ”Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ”Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: ”Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: ”Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Renungan

Kitab Sirakh menyampaikan pesan orangtua kepada anaknya, pemimpin kepada anggotanya. Isi pesan itu adalah berbakti dan mengabdi kepada Tuhan. Diingatkan bahwa mengabdi kepada Tuhan tidaklah mudah, karena terlalu banyak godaan dan rintangan. Ketika datang pencobaan atau bahkan kemalangan dalam hidup, orang diingatkan jangan sampai melepaskan imannya kepada Tuhan, jangan murtad dari Tuhan. Pencobaan itu harus dihadapi dengan keteguhan iman dan kesabaran, bukan dengan emosi. Jika orang bisa menghadapi dan mengatasi pencobaan dan kemalangan dengan kesabaran, orang itu bercahaya laksana emas yang telah diuji dan diimurnikan dalam kobaran api. Api yang membakarnya tidak merusakkan atau menghilangkan cahayanya, tetapi justru sebaliknya membantu cahaya emas itu semakin bersinar cemerlang dan memperlihatkan kemurniannya. Demikian pula yang dilakukan Yesus kepada para murid-Nya. Ia ingin memurnikan hati dan motivasi para murid-Nya. Kemurnian hati itu dapat dilihat dari diri anak kecil, yang hatinya belum dipenuhi dengan noda kebohongan dan tipu muslihat. Maka, Ia meminta para murid-Nya untuk memiliki hati seperti anak kecil.

Hati seperti anak kecil akan memampukan kita menghadapi setiap cobaan dan tantangan hidup. Sebab, kita pasti bersandar pada kekuatan Allah, bukan pada kekuatan diri sendiri. Allah menginginkan kita untuk menghadapi setiap persoalan hidup dalam keteguhan iman.

Doa: Tuhan, tambahkanlah dalam hatiku keteguhan iman dan kesabaran. Aku sering jatuh dan goyah dalam iman ketika menghadapi kesulitan dan kemalangan. Utuslah Roh Kudus-Mu agar menolongku bertumbuh dalam kebijaksanaan, kesabaran, dan keteguhan iman. Amin.

Sumber : Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: