Renungan harian 1 Mei 2013-“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, “

Yoh  15_1-8Rabu, 1 Mei 2013
Pekan PASKAH V (P)
St. Yusuf Pekerja; St. Yeremia; St. Peregrinus Laziosi
Bacaan I: Kis. 15:1-6
Mazmur: 122:1-2.3-4a.4b-5; R:lih. 1
Bacaan Injil: Yoh. 15:1-8

”Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

Renungan
Perbedaan-perbedaan yang ada di masyarakat kita, akhir-akhir ini dijadikan alat untuk merusak persaudaraan sebagai satu bangsa Indonesia. Syukur pada Allah di antara kita masih ada orang yang tetap memperjuangkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika–beraneka ragam tetapi tetap satu juga. Semboyan yang bukan hanya indah, tetapi sungguh luhur dan bermakna mendalam. Hanya orang-orang yang memahami makna dan menghidupinya, yang mau dan mampu memperjuangkan terpeliharanya kebhinnekaan itu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hal yang sama dialami oleh Gereja Perdana. Ketika jumlah mereka bertambah banyak dan berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda: suku, adat, budaya dan tradisi, ada bebe rapa orang yang memaksakan tradisinya sendiri pada anggota-anggota baru. Pemaksaan itu hampir membuat perpecahan di antara orang-orang yang mengimani Kristus, karena tidak ada penghormatan dan penerimaan atas perbedaan latar belakang, budaya, dan tradisi. Melihat kondisi tersebut, Paulus dan Barnabas menjadi tokoh pemersatu dan pendamai dengan menyediakan diri sebagai wakil untuk menemui dan berbicara dengan para rasul dan penatua dalam sebuah pertemuan di Yerusalem  (Kis. 15:1-6). Kesediaan mereka berdua menghasilkan buah dan berkat, yakni Gereja tidak mengalami perpecahan.

Semoga kita, ranting yang selalu bersatu dengan Kristus, Sang Pokok Anggur, menghasilkan buah yang berlimpah: perdamaian, persaudaraan, kasih dan penghormatan terhadap setiap saudara yang mempunyai perbedaan latar belakang.

Doa: Ya Allah, jadikanlah aku pembawa persatuan, persaudaraan dan perdamaian dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat. Jadikanlah aku orang yang mampu menghormati, menghargai, dan menerima perbedaan yang dimiliki orang lain. Amin. Sumber: Ziarah Batin 2013

Advertisements
%d bloggers like this: