Renungan Minggu 14 April 2013-Kebangkitan Kristus menuntun hubungan manusia dengan Allah semakin bersifat pribadi

Para rasul merasa diangkat martabat mereka lebih tinggi karena taat kepada Allah, yang meninggikan Yesus sebagai Pemimpin dan Juruselamat, sehingga justru mereka bersukacita boleh ikut serta menderita karena nama Yesus (Bacaan pertama, Kis.5:27b-32, 40b-41). Sebagaimana penglihatan rasul Yohanes, bahwa Anak Domba yang disembelih itu layak menerima kuasa, kekayaan hikmat, kekuatan, hormat, kemuliaan dan puji-pujian (Bacaan kedua, Why.5:11-14). Demikian pula rasul Petrus diangkat oleh Kristus menjadi wakil-Nya sebagai gembala domba-domba-Nya di dunia ini bukan karena kepandaian atau kedudukannya di masyarakat, melainkan karena begitu besar cintanya kepada Kristus (Bacaan Injil, Yoh.21:1-19).

Allah memperlakukan manusia sebagai pribadi yang berdaulat untuk mengangkat hubungan pribadi manusia dengan Allah bukan hanya semakin merohani, tetapi juga semakin meng-ilahi. Itulah dasar spiritualitas manusia dalam hubungannya dengan Kristus. Sebab semakin utuh dan penuh pribadi manusia menggambarkan Pribadi Allah Tritunggal semakin utuh dan dewasa pribadinya dan menjadi dasar, bahwa martabatnya sedemikian tinggi diangkat oleh Allah.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Paska ke-3 ini mengingatkan kita, bahwa hidup manusia di dunia ini adalah proses menuju semakin sempurna sebagai manusia terutama dari segi pribadinya. Hubungan antar manusia mengembangkan pribadi masing-masing semakin matang, utuh dan dewasa.

Demikian pula hubungan manusia dengan Allah menyempurnakan pribadi manusia. Kematangan, keutuhan dan kedewasaan pribadi itu terletak pada cinta kasih. Maka pengembangan pribadi manusia tidak lain dari mengembangkan cinta kasih yang semakin menjadi kekayaan pribadi yang utama. Maka tolak ukur kepribadian manusia juga cinta kasih, bukan kepandaian atau banyaknya ilmu pengetahuan yang dimiliki, apalagi pangkat atau kedudukan di masyarakat. Itulah sebabnya ketika Kristus mengangkat rasul Petrus menjadi wakil-Nya di dunia ini, yang ditanyakan adalah cintanya kepada Kristus. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Pertanyaan Yesus yang diulang sampai tiga kali itu dimaksudkan-Nya bukan untuk menguji cintanya, melainkan agar rasul Petrus mendewasakannya. Cinta kasih yang besar dan tulus serta dewasa yang akan menjamin terlaksananya tugas perutusannya dengan baik sebagai wakil Kristus di dunia ini. Sebab semua dorongan tubuh manusia yang jasmani, bila berada dalam kendali cinta kasih, tidak akan menjadi penghambat proses manusia menjadi manusia sebagaimana dikehendaki Allah. Dan tubuh manusia yang jasmani itu akan menjadi pelaksana cinta kasih secara paripurna pada dimuliakannya di akhir zaman dalam kebangkitan Kristus. Demikian pula cinta kasih rasul Yohanes kepada Kristus, sama dengan rasul Petrus, bahkan mungkin dapat dikatakan lebih. Berkali-kali ia disebut dalam Injil sebagai ‘rasul yang dikasihi Tuhan’. Tetapi ada dua hal yang dibutuhkan Gereja, yaitu penggemabalaan dan pendalaman iman. Karena iman itu misteri, pengalaman mistik oleh cinta kasih. Rasul Petrus, sesuai dengan wataknya, dipilih Kristus dalam penggembalaan, sedang rasul Yohanes dipilih untuk mendalami misteri iman melalui pengalaman mistik. Sebab Gereja masih hidup dalam dunia ‘tanda’ (bdk. Yoh.17:12-17) untuk memahami kesejatian yang berada di belakang ‘tanda-tanda’ itu, yang oleh Kristus disebut kebenaran, doa dan pengalaman mistik merupakan kebutuhan mutlak bagi Gereja. Jadi pengalaman mistik.
bukan hanya menguatkan cinta manusia kepada Kristus, tetapi juga menguatkan iman Gereja akan makna kebangkitan. Itulah sebabnya Kristus yang telah bangkit disebut oleh Gereja, “Yang Sulung”, yang juga tak lepas dari iman para rasul akan kebangkitan badan sebagai paripurnanya manusia yang mencapai hidup abadi. “Anak domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian. Karena itulah Kristus menyatakan bahwa cinta itu kesempurnaan hukum. Orang yang mentaati hukum belum tentu karena cinta, dapat karena takut dan lain-lainnya, tetapi orang yang mencintai pasti mentaati hukum. Dengan demikian ungkapan cinta kasih kepada Allah yang utama ialah ketaatan dan kesetiaan terhadap kehendak Allah, baik yang menyenangkan atau tidak menyenangkan secara duniawi. Ketaatan dan kesetiaan sebagai ungkapan cinta itu akan kembali semakin memperkuat cintanya, dan itu berarti mempererat hubungan pribadi manusia dengan Allah Tritunggal. “Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Allah, nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan”.

Sadarkah kita bahwa iman akan kebangkitan yang semakin mendalam itu akan mendewasakan hubungan pribadi kita dengan Kristus? Dan pribadi yang dewasa ialah pribadi yang memiliki cinta sebagaimana diajarkan oleh Kristus, yang menjamin kesetiaan Gereja?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: