Renungan minggu 7 April 2013-Kebangkitan Kristus membuktikan perkenanan Allah mengampuni dosa manusia

Romo SutoKebangkitan Kristus membuktikan perkenanan Allah mengampuni dosa manusia.

Para rasul yang berkumpul dalam persekutuan yang erat dengan semua orang yang percaya, bukan hanya disegani masyarakat, tetapi juga menjadi saksi akan perutusan Kristus, sehingga banyak orang yang bertobat dan percaya (Bacaan pertama, Kis.5:12-16). Sebab kebangkitan Kristus mengangkat-Nya sebagai Awal dan Akhir, yang hidup kembali selama-lamanya serta yang telah mengalahkan kuasa maut dan kerajaannya (Bacaan kedua, Why.1:9-11a, 12-13, 17-19). Maka Kristus mengutus dan melimpahkan kuasa-Nya kepada para rasul dengan mencurahi mereka Roh Kudus untuk meneruskan karya penyelamatan-Nya, yaitu bahwa Allah telah mengampuni dosa umat manusia (Bacaan Injil, Yoh.20:19-31).

Penjelmaan Allah Putera menjadi Manusia adalah awal pelaksanaan karya penyelamatan, yaitu pernyataan akan perkenanan Allah mengampuni dosa manusia, yang nyata pada perkenanan Allah menyatukan diri dengan manusia, Allah berkenan berdamai dengan manusia. Karena hidup manusia di dunia ini dalam proses, karya penyelamatan ini pun berlangsung sesuai dengan proses hidup manusia, bukan hanya selesai pada kematian dan kebangkitan Kristus, tetapi terus berlangsung sampai paripurna di akhir zaman pada kedatangan Kristus kedua. Namun bagi manusia di dunia ini kebangkitan Kristus merupakan bukti yang dapat ditangkap oleh manusia akan makna pengampunan yang paripurna yang akan datang itu.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Paska ke-2 ini mengingatkan kita, bahwa manusia diciptakan sebagai roh yang merohanikan jasmani (tubuhnya). Yang disebut manusia adalah kesatuan tubuh yang jasmani dan jiwa yang rohani dan berdiri sebagai pribadi. Tetapi dosa yang merusak diri manusia menyebabkan kematian, yaitu terpisahnya roh dan tubuhnya. Namun Allah berkenan mengampuni dosa manusia, yang dilaksanakan oleh Kristus dengan mengikuti proses hidup manusia sampai akhir zaman. Artinya kehendak Allah menciptakan manusia sebagai kesatuan roh dan tubuh tidak berubah, manusia tidak akan berakhir pada kematian, meskipun melalui kematian. Maka sesudah kebangkitan-Nya selama empatpuluh hari beberapa kali Kristus menampakkan diri kepada para rasul. Itulah sebabnya dalam iman katolik dikatakan juga ‘Aku percaya akan kebangkitan badan’. “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata : Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada”.

Allah mengetahui kelemahan manusia, yang diperparah oleh dosanya. Bukan hanya bahwa manusia tidak akan mampu lagi mencapai tujuan hidupnya sebagaimana dikehendaki Allah, tetapi juga daya pikir manusia pun berada dalam kegelapan untuk memahami tujuan hidupnya yang sejati. Sebab perjalanan hidup manusia di dunia ini pada kenyatannya berakhir pada kematian, yang dari kedalaman hatinya tidak ada manusia yang mau mati. Sadar atau tidak manusia merasakan ketakutan menghadapi kematian. “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut”.

Wahyu Allah yang disampaikan melalui rasul Yohanes itu sungguh merupakan harapan yang memberi hiburan dan kekuatan akan kebenaran iman yang kita peluk. Dengan kebangkitan-Nya Kristus membuktikan kepada manusia bahwa kematian bukanlah akhir hidup manusia. Keyakinan ini dihidupi oleh Gereja Purba, yaitu para rasul dan semua umat beriman. Dan dengan menghidupi iman seperti itu Gereja melaksanakan perutusannya meneruskan karya penyelamatan Kristus. Cara hidup seperti itu menyebabkan orang lain bukan hanya mengagumi, tetapi juga menghormati. “Dan makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan…..“.

 

Sadarkah kita bahwa dalam melaksanakan perutusan itu caranya haruslah seperti cara Kristus, yaitu menghadapi akibat dosa untuk diatasi dan dikalahkan?

 

 

     St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: