Renungan Minggu 31 Maret 2013- Kebangkitan Yesus mengalahkan dosa dan mengatasi maut

Romo SutoKebangkitan Yesus  membuktikan bahwa, sebagai manusia, Yesus mengalahkan dosa dan mengatasi maut.

Para rasul ditugaskan menjadi saksi bahwa Yesus sungguh telah wafat disalibkan, tetapi Ia juga sungguh telah bangkit. Sebagaimana kesaksian para nabi, siapa yang percaya kepada-Nya memperoleh pengampunan dosa (Bacaan pertama, Kis.10:34a, 37-43). Maka mengimani Kristus berarti memusatkan perhatian pada alam kehidupan Kristus, pada harta surgawi, bukan alam kehidupan duniawi dan harta duniawi, sebab bersama Dia kita telah mati atas dosa dan hidup kita yang sejati ialah Kristus (Bacaan kedua, Kol.3:1-4 pilihan pertama). Atau : Mengimani Kristus berarti merayakan Paska baru yang kurbannya ialah Kristus, yang kita santap dengan roti beragi baru, yaitu ragi kemurnian dan kebenaran, bukan ragi dosa dan kejahatan (Bacaan kedua, 1Kor.5:6b-8, pilihan kedua). Mendengar yang dikatakan Maria Magdalena dan menyaksikan sendiri bahwa kubur telah terbuka dan tubuh Yesus tidak ada, meskipun melihat pula kain kafan dan kain tudung terlipat dengan rapi, para rasul belum memahami Kitab Suci, bahwa Yesus harus bangkit  (Bacaan Injil, Yoh.20:1-9, pilihan pertama). Atau : Baik melalui malaikat maupun oleh Yesus sendiri yang menampakkan diri kepada Maria dari Magdala dan Maria yang lain, dinyatakan bahwa Yesus telah bangkit seperti pernah dikatakan-Nya dan akan menemui para murid di Galilea (Bacaan Injil, Mat.28:1-10, pilihan kedua).

Kita mengalami semacam paradoks dalam diri kita. Dari satu sisi kita mau hidup selama-lamanya, tetapi dari sisi lain mau tidak mau kita akan menghadapi kematian. Itulah persoalan yang tak terpecahkan oleh kemampuan akal manusia. Hanya iman akan kebangkitan Kristus yang memberikan jawaban yang memecahkan persoalan manusia itu.

Pesan perayaan Ekaristi Minggu Paska pertama ini mengingatkan kita, bahwa kebangkitan Kristus adalah kunci iman katolik.

“Lalu masuk juga murid yang pertama sampai ke makam. Ia melihat dan percaya. Namun mereka belum memahami Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa Yesus harus bangkit dari alam maut”. Atau : “Maka kedua wanita tadi cepat-cepat meninggalkan makam dengan rasa takut bercampur kegembiraan besar, dan mereka berlari-lari mengabarkan kepada para murid Yesus”.

Percaya atau sangat gembira bahwa Yesus telah bangkit itu pintu menjadi orang beriman. Sebab kerinduan manusia hidup kekal terbuka, kematian duniawi bukan akhir dari kemanusiaannya, dari segalanya. Maka mengimani Kristus itu menjadikan Kristus sebagai azas dasar hidupnya.

Disitulah orang menemukan yang dirindukan, yaitu keselamatan, menerima pengampunan dosa dan penebusan, diperdamaikan dengan Allah, disatukan hidupnya dengan hidup Kristus. “Kamu sudah mati dan kehidupanmu tersembunyi dalam Allah bersama Kristus. Pusat kehidupanmu yang sesungguhnya ialah Kristus”.

Dengan kata lain, mengimani Kristus yang bangkit berarti memiliki hidup baru, berarti merayakan Paska baru yaitu Kristus sendiri yang bertindak sebagai Imam Agung dan sekaligus menjadi kurban-Nya. Mengimani Kristus yang bangkit berarti menjadi manusia baru dalam kebangkitan Kristus, menjadi anak Allah. “Maka buanglah ragi yang lama (yaitu ragi dosa), agar kamu menjadi adonan baru, karena kamu memang sudah menjadi baru”.

Yang disebut manusia ialah kesatuan antara roh dan badan (jasmani). Kematian – akibat dosa itu – merupakan kebinasaan kemanusiaannya, bukan hanya kebinasaan orang yang meninggal itu saja. Yang mau diselamatkan Kristus adalah manusia utuh, jadi juga kemanusiaan itu sendiri. Bahwa manusia harus mengalami kematian, itulah tanggung-jawab manusia, karena manusia sendirilah yang berdosa. Kematian bukan hukuman Allah, tetapi akibat dosa yang dibiarkan oleh Allah. Karena itu karya penebusan Allah terjadi dengan diutusnya Allah Putera menjadi Manusia, Immanuel, sehingga Immanuel (Kristus) dapat menghadapi kematian untuk dijadikan sebagai jalan membangun manusia baru dan kemanusiaan baru dalam kebangkitan-Nya.

Orang beriman harus hidup dengan kemanusiaan baru, yang mengarahkan usahanya kepada alam hidup yang mulia, yang membuang ragi dosa.

Itulah sebabnya Gereja ditugaskan untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus, yang berarti menjadi saksi akan kemanusiaan baru, yaitu manusia yang menggunakan orientasi Kristus dan meninggalkan orientasi manusia lama. Itu dilaksanakan Gereja melalui anggotanya, yang menampilkan diri sebagai manusia baru ditengah masyarakat.

Sadarkah kita, bahwa janji baptis yang kita ucapkan itu berarti mau menjadi saksi kemanusiaan baru? Benarkah kita sungguh sudah menghidupi kemanusiaan baru?

 

 St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: