Renungan harian 29 Maret 2013- Pinggul salib kita dan belajar dari Yesus

Yoh 18_1–19Jumat, 29 Maret 2013
JUMAT AGUNG (M)
Puasa dan Pantang
St. Bertold; St. Yonah dan Berikjesu

HARI
JUMAT AGUNG

Yes. 52:13 – 53:12;
Mzm. 31:2,6,12-13,15-16,17,25;Ibr. 4:14-16; 5:7-9;
Yoh. 18:1 – 19:42
Bacaan Injil    : Yoh. 18: 1–19:42

Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan ber­kata kepada mereka: ”Siapakah yang kamu cari?” Jawab mereka: ”Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: ”Akulah Dia.” Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Ia berkata kepada mereka: ”Akulah Dia,” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Maka Ia bertanya pula: ”Siapakah yang kamu cari?” Kata mereka: ”Yesus dari Nazaret.” Jawab Yesus: ”Telah Kuka­takan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: ”Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan binasa.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab….)

Renungan
Mengapa Yesus yang tidak bersalah, mendapat perlakuan tidak sepantasnya terjadi pada- Nya, dikhianati ditangkap,  ditolak dan tidak diakui, diadili , dipermalukan, dihukum dengan tidak adil, didera ,menanggung beban berat, meminggul salib ketempat kematian- Nya, dilucuti , disalib, ditikam mati , dimakamkan dan ditinggalkan orang ?

Reaksi menolak , marah , berontak,  takut , sedih ,kecewa, depresi , menyesali keadaan , menyalahkan dan mengutuk orang –orang, kebencian , dendam dapat muncul silih berganti tak habis-habisnya , menggerogoti hati , tubuh dan jiwa kita. Karena sulit menerima perlakuan yang tidak sepantasnya diterima itu. Perasaan- perasaan itu wajar muncul sebagai reaksi terlukanya rasa keadilan , namun hal yang sulit diterima akal yang sehat macam ini, toh tetap saja ada, terjadi dan merupakan bagian dari keberadaan dan kehidupan Yesus di dunia, seperti rencana Allah.

Jadi mengambil sikap yang keliru  serta berlebih-lebihan akan menguras dan memboroskan waktu, energy , pikiran jernih dan kedamaian hati. Sikap keliru adalah kesia-siaan yang akan menyulitkan diri sendiri untuk dapat tetap fokus, memperhatikan arah dan tujuan, tegar , percaya dan seimbang dalam menjalani kehidupan.

Apakah kehidupan kita juga mempunyai persamaan dengan yang dialami Yesus : bahwa kita bisa mengalami penghianatan , ditolak , perlakuan yang  tidak adil, sengsara ,  penderitaan bahkan kematian ?  Pun jika kita sudah berusaha hidup baik dan menghindari kesalahan, akan kah kita tetap harus memanggul salib ?   Dalam sekala yang berbeda-beda; yah kita pun dapat mengalami perlakuan atau situasi yang tak sepantasnya kita terima , meskipun kita tidak melakukan kesalahan apa pun apalagi jika sebagai manusia biasa  kita bisa lupa, keliru, bersalah dan berdosa.

Memanggul salib adalah bagian dari kehidupan didunia, Bersykurlah karena kita punya model, teladan dan Guru yaitu Tuhan kita Yesus Kristus. Maka ketika kita menjalani memanggul salib hendaklah kita;

1.  Belajar untuk menjalaninya dengan tawakal, tanpa memperburuk keadaan dengan  keluhan ,kemarahan dan sikap negatif.

2. Memohon rahmat , kekuatan dan pertolongan Tuhan agar kita kuat menjalaninya.

3. Tidak putus asa setiap kali kita jatuh, kita bangkit lagi.

4. Mampu merasakan pendampingan Allah  dengan kehadiran sesama yang hadir , yang  berbela rasa , memberi perhatian ,  penghiburan ( seperti Veronica) dan pertolongan yang meringankan beban salib kita ( Seperti Simon dari Kirine) , Ini membuat kita kita tetap bisa bersyukur , meskipun sedang dalam kesesakan.

5. Percaya bahwa salib kita tidak berakhir dengan kematian , Kita bisa mengalami kematian dari kebiasaan buruk , sikap egois , kesombongan diri, ketamakan,  kerterlekatan,  keterbelakangan dan bentuk-bentuk dosa yang lain.

Sesudahnya kita boleh menjadi umat Allah yang lebh baik , murid Yesus yang lebih beriman, lebih bersikap kasih terhadap sesama.  Lebih bijak dan lebih bermartabat .

6. Memelihara harapan akan tiba saatnya kita mempunyai kehidupan baru yang lebih baik, yang sesuai dengan rencana  Bapa.

Mari kita pinggul salib kita dan belajar dari Yesus.

Refleksi :

Seberapa sering  saya  menyadari keadaan yang sulit, menyesali diri, menyalahkan orang lain, kecewa pada Allah dan enggan memanggul salibku ? Seberapa sering saya malas menolong orang lain yang menderita dan hanya berpusat pada kepentingan diri sendiri saja ?  Sejauh mana saya mampu merangkul  kenyataan dan percaya akan karya keselamatan Allah ?

Doa:

Bapa yang Mahakuasa dan Maharahim, ampunilah ketidak tahuan dan kedegilan hati kami dalam memahami  recanana- Mu  yang sempurna dan sesuai untuk diri kami masing masing.  Semoga keteladanan Yesus Kristus , Putera-Mu , mampu membuat kami tangguh dalam memikul salib kami. Kami percaya engkau merencanakan ini semua demi keselamatan semua umat ciptaan –Mu , demi Yesus , Tuhan dan Penebus kami Amin . (Shienta D Aswin)

Renungan refleksi  47 hari  Rabu Abu – Minggu Paskah 2013

Advertisements
%d bloggers like this: