Renungan Minggu 24 maret 2013-Kristus mengatasi akibat dosa dengan rela mengalami penderitaan dan kematian, sebagai tebusan akan hidup manusia.

Romo Suto‘Martyrium’ merupakan puncak puasa dan pantang sebagai pewartaan yang berdaya dan berhasil guna mengenai karya penyelamatan Kristus.

Yesus dielu-elukan sebagai raja waktu terakhir kali memasuki Yerusalem, yang melambangkan kemuliaan surgawi haruslah dicapai melalui kesengsaraan dan kematian duniawi (Bacaan Injil Pemberkatan Palma, Mat.21:1-11). Sebagaimana dinubuatkan nabi Yesaya, bahwa Mesias mendengarkan dan melakukan sabda Allah, sehingga Ia membiarkan diri-Nya dipukuli, wajah-Nya diludahi, karena Ia yakin akan rencana dan kehendak Allah (Bacaan pertama, Yes.50:4-7). Karena itu sebagai orang yang mengimani Kristus, kita harus bersikap seperti Kristus, yang meskipun Allah tetapi rela menghampakan diri menjadi manusia dan wafat di salib, karena taat kepada Allah Bapa (Bacaan kedua, Flp.2:6-11). Maka kita perlu merefleksikan kisah sengsara-Nya, agar kita semakin mampu memahami maknanya, bahwa hidup sejati lahir kembali dari kematian Kristus di salib; dan jalan itu pula yang harus kita tempuh bila kita mau hidup (Kisah Sengsara Tuhan Yesus, Mat.26:14 — 27:66).

Penderitaan dan kematian masuk ke dunia ini karena dosa. Dosa bukan hanya berarti manusia meninggalkan Allah sebagai Sumber hidupnya, tetapi juga merusak hubungan manusia dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan dunia ini. Sebab manusia diciptakan di dunia bersama orang lain, untuk mengatur dunia ini agar berguna bagi hidupnya. Maka disamping manusia harus bertobat melawan dosa, persoalan yang dihadapi manusia ialah mengatasi penderitaan dan kematian sebagai akibat dosa. Persoalan harus dihadapi untuk dipecahkan, diatasi. Melupakan atau tidak mau menghadapi persoalan berarti membiarkan-nya tetap ada, yang akan beranak-cucu, artinya akan melahirkan persoalan-persoalan baru.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Palma ini mengingatkan kita, bahwa Kristus telah memberi teladan, bagaimana memecahkan permasalahan akibat dosa itu, yaitu menghadapi dan menerimanya dengan rela sebagai ungkapan pertanggung-jawaban untuk diatasi. Kristus sebagai raja, turun tangan sendiri untuk mengalahkan dosa dan menghadapi dan menerima akibat dosa untuk diatasi sebagai teladan bagi kita.

Kristus menghapus dosa dengan mengampuni manusia – karena Kristus adalah Allah Putra – tetapi manusia harus mengakui kedosaannya dan bertobat.

Kristus mengatasi akibat dosa dengan rela mengalami (menghadapi) penderitaan dan kematian, sebagai tebusan akan hidup manusia – karena Kristus adalah sungguh Manusia yang tidak berdosa – untuk memberi teladan akan tahu tanggung-jawab, yaitu manusia harus menghadapi dan mengalami yang sama, karena manusia yang berdosa. Manusia akan mampu melaksanakan itu bila menyatukannya dengan penderitaan dan kematian Kristus. Maka dipenuhi oleh Roh Kudus para murid-Nya menyambut Dia dengan berseru : “Terpujilah Putera Daud! Terberkatilah yang datang atas nama Tuhan! Terpujilah Yang Mahatinggi!”.

Sepantasnyalah manusia mengagungkan Kristus, karena apa yang Ia lakukan demi untuk keselamatan umat manusia. Sebab persoalan dosa dengan akibatnya, yaitu penderitaan dan kematian, tidak mungkin dipecahkan oleh manusia sendiri tanpa pertolongan Tuhan. Yang dapat mengampuni dosa  dan mengubah akibat dosa menjadi jalan ke keselamatan hanyalah Allah sendiri.

“Dari sebab itu Allah mengagungkan Yesus dan menganugerahkan kepada-Nya nama yang paling luhur, supaya semua makhluk di surga, di bumi dan di bawah bumi, bertekuk lutut menghormati Yesus, dan supaya semua orang mengakui : Yesus Kristus adalah Tuhan, untuk memuliakan Allah Bapa”. Allah konsekuen dalam memperlakukan manusia yang diciptakan-Nya sebagai pribadi yang berdaulat itu. Allah tidak pernah memaksa manusia. Allah hanya memberikan pilihan kepada manusia. Dan apa yang dipilih manusia itulah tanggung-jawab manusia sendiri. Itulah kemurahan hati Allah yang mahabijak terhadap manusia, karena Allah begitu mencintai manusia, sehingga tidak menghendaki manusia mengalami penderitaan dan kematian abadi. Apa yang dilakukan Kristus telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya sbb.: “Setiap pagi Allah membuka telingaku, supaya aku mendengarkan sabda-Nya sebagai murid…….. dan aku tidak melawan pun tidak mundur. Punggungku kubiarkan dipukuli orang, ……. dan aku tidak memalingkan wajahku dari cercaan dan ludahan…… Hatiku tabah, sebab aku yakin, aku takkan dipermalukan”. Sikap dan apa yang dilakukan Yesus di hadapan Pontius Pilatus sungguh sesuai dengan yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya, yaitu bahwa semua itu adalah rencana dan kehendak Allah Bapa dan dilaksanakan dengan rela dan setia oleh Kristus. “Tetapi atas tuduhan yang dilakukan oleh imam-imam Kepala dan para pemuka, Yesus tidak memberi jawaban apa pun”.  Yesus tidak membela diri, karena Ia memang menyerahkan diri, agar rencana dan kehendak Bapa terlaksana. Karena itu sungguh merupakan tidak tahu diri, bila manusia membiarkan Tuhan Yesus sendirian memanggul dosa dan akibat dosa manusia itu. Tuhan Yesus yang tidak berdosa rela melaksanakannya, karena Ia mau memberi teladan dan bahkan menemani kita untuk memberi kekuatan.

Sadarkah kita bahwa puasa dan pantang bermuara pada tahu diri dan tahu tanggung-jawab atas dosa dan akibat-akibatnya itu?

 

 St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: