Renungan Minggu 17 Maret 2013 -Puasa dan Pantang menuntun manusia menggunakan segala pemberian Allah untuk memuliakan-Nya

Puasa dan Pantang menuntun manusia menggunakan segala pemberian Allah

untuk memuliakan-Nya

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa Allah akan membuat air di padang gurun dan sungai di padang belantara, untuk diberikan baik kepada binatang padang gurun dan juga kepada umat terpilih, agar Allah dimuliakan (Bacaan pertama, Yes.43:16-21). Sebab mengenal Kristus, apalagi bersekutu dalam penderitaan-Nya, akan serupa dengan Dia dalam kemuliaan kebangkitan-Nya, yang merupakan panggilan surgawi yang harus kita kejar sampai dapat (Bacaan kedua, Flp.3:8-14). Maka Allah mengutus Kristus, karena Allah mau mengampuni dosa umat manusia, tanpa ada yang dikecualikan, selama orang mau mengimani Dia dan berjuang untuk tidak jatuh ke dalam dosa lagi (Bacaan Injil, Yoh.8:1-11).

Dunia dengan segala isinya, termasuk manusia sendiri, diciptakan Allah, agar manusia menggunakannya untuk mengejar tujuan hidupnya, yaitu hidup kekal menyatu dengan Allah. Bila manusia melaksanakannya, itu berarti manusia memuliakan Allah. Tetapi karena pemberian Allah itu disalah-gunakan, termasuk kemampuan yang ada pada diri manusia sendiri, manusia menjadi tidak berdaya. Namun demikian Allah tidak membatalkan kehendak-Nya, karena itu Allah berkenan mengampuni manusia, siapapun yang mau menerima dan percaya kepada Kristus, meski hanya tersirat. Sebab pujian manusia tidak menambah kemuliaan Allah, tetapi bila manusia memuji Allah berguna bagi keselamatannya, karena secara tersirat menunjukkan kepercayaannya kepada Kristus.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Prapaska ke-5 ini mengingatkan kita,   bahwa   segala   kekayaan   dan   daya  kemampuan  yang  dimiliki  manusia  itu diberikan oleh Allah agar kita gunakan untuk mengejar dan mencapai hidup abadi.

Dosa menyebabkan daya kemampuan manusia, yang bersumber pada kejasmaniannya, berjalan sendiri. Daya kemampuan tubuhnya itu – yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai tanda  —  menjadi tidak terkendali dan kehilangan makna kesejatiannya. Karena daya kemampuan tubuh itu nisbi, yang akan usang dan akhirnya rusak sama sekali dan juga membinasakan manusia sendiri. Sebab daya kemampuan tubuh itu seharusnya dirohanikan, yaitu dijadikan tanda cinta.

Tetapi Allah tidak menghendaki manusia binasa. Setiap orang yang percaya kepada Kristus akan memperoleh pengampunan.“Hai perempuan, dimanakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau? …….. Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang”. Makna kesejatian daya kemampuan tubuh itu ialah bila merupakan daya kemampuan manusiawi, yaitu merupakan tanda cinta. Dengan demikian manusia menggunakan daya kemampuan tubuhnya sesuai dengan kehendak Allah yang menciptakannya, dan itu berarti menyatakan kemurahan, kebesaran dan kemuliaan Allah. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, sehingga keseluruhan kemanusiaannya tercemar dosa, manusia hanya akan mampu mengenali makna kesejatian daya tubuhnya itu bila ia mengenal Kristus. Sebab Kristus adalah Sang Manusia, Gambar Allah yang sempurna (bdk.Yoh.19:5). “Saudara-saudara, segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya”.  Itulah yang dirasakan oleh rasul Paulus setelah ia mengenal Kristus, mengenal kuasa kebangkitan-Nya dan tidak kalah pentingnya mengenal persekutuan dengan penderitaan Kristus. Bagi rasul Paulus mati-raga adalah mati dalam kematian Kristus untuk bangkit dalam kebangkitan-Nya. Maka mati-raga harus dilakukan terus menerus selama di dunia ini. Nafsu seks, misalnya, tidak semata-mata untuk prokreasi, tetapi juga sarana untuk digunakan manusia menemukan jatidirinya sebagai pribadi sosial, yang menggambarkan Allah Tritunggal. Itu hanya benar bila dilakukan dalam perkawinan, karena disitu manusia menyatukan seluruh kehidupannya dengan orang lain dalam cinta kasih.  Karena hal itu berarti seumur hidup, maka oleh Kristus diangkat lagi menjadi tanda Sakramen, yaitu menjadi tanda kesatuan hidup insani dan ilahi yang abadi. Nabi Yesaya telah menubuatkan hal itu. “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?……. Binatang hutan akan memuliakan Daku , serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air…….. untuk memberi minum umat pilihan-Ku, umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyuran-Ku”. Air di sini melambangkan baptis yang menyatukan manusia dengan Kristus, yang merupakan dasar seluruh kehidupan manusia dibangun sebagai kehidupan sejati yang abadi, yaitu kesatuan dengan Kristus yang paripurna. Cara membangun itu ialah dengan pantang dan puasa, yaitu pengendalian dorongan tubuh (semua nafsu), yang dalam bahasa katolik diungkapkan dengan ‘membawa kematian Kristus dalam tubuh kita, sebagaimana Kristus menghidupkan kita dengan kematian tubuh-Nya’.

Dalam budaya Jawa dahulu dikenal pemeo ‘Nutupi babahan hawa sanga’ (menutup lubang sembilan hawa nafsu = bertapa, bermati-raga), sehingga dahulu orang Jawa umumnya sangat menghormati selibat, meskipun secara tersurat mereka belum menganal Kristus.

Sadarkah kita bahwa puasa dan pantang, sekalipun tidak seberapa yang dilakukan, tetapi bila dengan sepenuh hati sungguh menuntun kita dalam menyatukan hidup kita dengan hidup Kristus seutuhnya, dasar hidup sejati?

 

Advertisements
%d bloggers like this: