Renungan Minggu 24 Februari 2013-PUASA & PANTANG memperdalam iman akan hidup abadi

Romo SutoPUASA & PANTANG memperdalam iman akan hidup abadi

Abraham dibenarkan oleh Tuhan, karena ia percaya akan janji Tuhan, bahwa keturunanmu akan sebanyak bintang di langit, sekalipun ia dan isterinya sudah tua, tetapi juga akan janji Allah memberi tanah (Bacaan pertama, Kej.15:5-12, 17-18). Demikian pula Rasul Paulus sungguh mengimani, bahwa tubuh kita yang fana ini akan dimuliakan dalam kebangkitan Kristus, sebab kita telah diangkat menjadi warga surgawi (Bacaan kedua, Flp.3:17–4:1). Sebagaimana ditunjukkan Kristus kepada ketiga rasul-Nya, kemuliaan hidup yang dijanjikan Tuhan dari diri-Nya dan dibenarkan oleh Allah Bapa dengan perintah agar mereka percaya kepada-Nya (Bacaan Injil, Lk.9:28b-36).

Tidak ada orang yang pernah melihat hidup, apalagi membayangkan hidup abadi. Maka mengimani akan hidup abadi bagi manusia itu sangat peka, mudah goyah dan terlupakan. Namun, dari sisi lain dari kedalaman hatinya, manusia mau hidup kekal. Apa yang ada dalam kedalaman hati manusia itu dibenarkan oleh Allah dengan memberi kesaksian bahwa yang ditunjukkan Kristus kepada ketiga rasul-Nya itu benar. Karena Allah juga mengakui kelemahan manusia, terutama setelah tercemar dosa, bimbingan dan usaha Allah meneguhkan iman manusia itu sangat diperlukan oleh manusia. Begitu besar cinta kasih Allah kepada manusia, meskipun manusia telah berlumuran dosa, Allah masih tetap memperlakukannya sebagai pribadi yang berdaulat.
Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Prapaska ke-2 ini mengingatkan kita, bahwa tujuan hidup kita itu eskatologis. Untuk membayangkan hidup kekal yang membahagiakan itu, selama manusia masih di dunia ini, tidak akan dapat. Hidup yang membahagiakan itu hanya dapat diimani. Karena itu untuk menolong manusia sekejap, Kristus menunjukkan hidup yang membahagiakan itu kepada ketiga murid-Nya. Maksud Kristus ialah agar ketiga rasul itu nanti dapat memberi kesaksian akan kemuliaan dan kebahagiaan hidup yang dijanjikan-Nya. Sebab kebahagiaan hidup abadi itu sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang kita saksikan di dunia ini. “Guru, betapa bahagianya kami ditempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia”.

Bukan hanya mereka itu menyaksikan kemuliaan Kristus, Allah Bapa pun memberikan kesaksian-Nya, yang mendorong agar para rasul percaya. Menyaksikan kemuliaan Kristus saja, ketiga rasul itu sudah merasa sangat bahagia dan karena itu, mereka rela meninggalkan segala-galanya, apalagi mendengar kesaksian Allah Bapa. ‘Mendirikan tenda’ bagi orang nomad berarti mau menetap. Maka bagi para rasul, di kemudian hari hal itu menguatkan iman mereka kepada Kristus, bahwa mereka pun akan dimuliakan dalam kebangkitan Kristus. “…..kewargaan kita adalah di surga, dan dari situ juga, kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang fana ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.

Kita tidak menyaksikan kebangkitan Kristus, tetapi kita percaya akan kesaksian para rasul, yang mereka tuliskan pada Injil Kristus. Mengimani Kristus berarti kita menerima semua kesaksian yang disampaikan Kristus adalah benar, meskipun menurut akal manusia itu sepertinya tidak masuk akal. Seperti halnya sikap Abraham, meskipun ia dan isterinya sudah tua dan mereka memang tidak mempunyai anak, tetapi ia percaya akan janji Allah, bahwa banyaknya keturunannya akan seperti bintang di langit. “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”
Abraham dibenarkan oleh Allah, disamping karena ia percaya akan janji Alah, segala sesuatu yang dilakukannya selanjutnya menggunakan pertimbangan apa yang diimani itu. Ia sungguh percaya akan kesetiaan Allah, bahkan perintah Allah yang tampak berlawanan dengan janji-Nya pun ia laksanakan. Beriman berarti, orang menerima kebenaran, yang tidak tampak. Yang tampak hanyalah tanda yang dapat berbeda, bahkan berlawanan, meskipun menandakan yang sama. Bila orang hanya percaya kepada yang dapat dilihat mata, yang ditangkap pancaindera, kesudahan mereka adalah kebinasaan, karena sadar atau tidak hal itu menarik orang mencari kepuasan kenikmatan tubuh dan bertumpu pada yang tampak dan akal manusiawi akhirnya akan meninggalkan kebenaran yang ada di belakang yang tampak.

Sadarkah kita, bahwa puasa dan pantang yang dilakukan dengan sungguh-sungguh menguatkan iman kita akan Kristus, khususnya akan kehidupan abadi yang dijanjikan-Nya?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: