Renungan harian 23 Februari 2013-“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. “

SIMG_1213abtu, 23 Februari 2013
PEKAN PRAPASKAH I (U)
St. Polykarpus, UskMrt.
St. Willigis

 

Ul. 26:16-19 atau Why. 2:8-11;
Mzm. 119:1-2,4-5,7-8;
Mat. 5:43-48
Bacaan Injil    : Mat. 5:43–48

”Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya daripada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Renungan
Pastor Kosmas kerap ditanya umat tentang bagaimana caranya memaafkan orang yang telah melukai hati. Ia selalu katakan, ”Doakan orang tersebut!”. Pastor  Kosmas yakin bahwa seseorang tidak mungkin mendoakan orang lain dan serentak membencinya. Ia yakin bahwa pelan tapi pasti orang akan sanggup memaafkan orang lain yang melukai hatinya itu.
Injil hari ini berbicara tentang mengampuni musuh. Yesus bersabda, ”Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”.  Sabda Yesus ini barangkali aneh dalam pandangan manusia. Yang wajar adalah kasihilah temanmu dan bencilah musuhmu. Ini adalah logika manusia. Tidak demikian dengan logika Tuhan. Tuhan ingin kita mencintai semua orang, juga orang yang membenci kita. Yesus mau mengajarkan bahwa kebencian jangan dibalas dengan kebencian tapi dengan kasih. Kalau kebencian dibalas kebencian, dendam dibalas dendam, maka lingkaran kejahatan tidak akan pernah putus. Hanya kasih yang mampu memutuskannya. Sabda Yesus itu bukan isapan jempol. Yesus sendiri terlebih dahulu menghidupinya dan memberikan teladan kepada kita manakala Dia mengampuni dan mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya.
Yesus menantang kita untuk menghadirkan kasih yang mengatasi logika manusia. Kalau kita mampu mengasihi dengan sepenuh hati dan tanpa batas maka kita pantas menjadi anak-anak Bapa, sahabat-sahabat Yesus. Bersediakah kita?
Ya Tuhan yang mahakasih, syukur dan terima kasih atas cinta kasih-Mu yang tulus dan tiada taranya kepadaku. Semoga aku mampu mengasihi siapa pun dengan tulus. Amin.

Sumber ; Ziarah Batin 2013

About these ads
%d bloggers like this: