Renungan Minggu 17 Februari 2013-PUASA & PANTANG

Romo SutoPUASA  & PANTANG

mengingatkan kita bahwa hidup dan segala kebutuhannya,

kita terima dari Allah.

Dalam tradisi agama Yahudi, mereka selalu mempersembahkan (anak sulung, baik anak manusia maupun binatang serta) hasil panenan pertama kepada Tuhan, sebagai pengakuan, bahwa segala-galanya adalah milik dan pemberian Tuhan (Bacaan pertama, Ul.26:4-10). Pengakuan seperti itu seharusnya berlaku bagi semua orang, yang berupa kesadaran, bahwa persembahan apapun dari dunia ini hanyalah tanda, yang hanya akan bermakna bila sungguh keluar dari hati (Bacaan kedua, Rm.10:8-13). Sebab segala yang ada ialah ciptaan Allah, maka semua orang haruslah mengakui bahwa hidup kita juga tergantung pada Allah, bukan hanya pada makanan dan barang duniawi lainnya, karena hanya Allah yang harus disembah dengan iman penuh (Bacaan Injil, Luk.4:1-13).

Manusia diciptakan sebagai pribadi, itu berarti bahwa manusia diharapkan oleh Allah untuk menyadari kedudukannya di hadapan Allah. Itulah salah satu sisi dari apa yang dikatakan Tuhan Yesus dengan “Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Tuhan”. Sebagai pribadi, manusia harus sadar bahwa segalanya adalah dari Allah, milik Allah yang dilimpahkan kepada manusia untuk diolah sebagai sarana membangun jati dirinya. Kesombongan manusia menyebabkan manusia jatuh, karena melupakan bahwa dirinya hanyalah ciptaan Allah. Karena itulah Kristus mengajarkan kerendahan hati. Hanya orang yang rendah hati yang mampu menyadari kedudukannya di hadapan Tuhan.

Pesan yang disampaikan perayaan Ekaristi Minggu Prapaska ke-1 ini mengingatkan kita, bahwa segala yang ada, termasuk manusia, adalah ciptaan Allah; jadi milik Allah. Maka segala yang ada, termasuk manusia, harus dikembalikan kepada Allah. Tetapi manusia berdosa, yaitu meninggalkan Allah, berarti tidak mau mengembalikan dirinya kepada Pemiliknya. Namun demikian dari kedalaman hati manusia, yang diciptakan sebagai pribadi oleh Allah, ia mau hidup kekal, yang secara tersirat mengandaikan ‘mencari sumber hidupnya’. Itu berarti, dalam diri manusia ada dua dorongan yang berlawanan. Bila orang mengakui bahwa ia adalah ciptaan Allah, itu berarti ia berusaha mendekati Allah. “Ada tertulis : Manusia hidup bukan dari roti saja …….. Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya pada Dia sajalah engkau berbakti”.

Manusia hidup bukan dari roti saja, itu berarti bahwa hidup manusia bukan hanya tergantung pada roti, pada makanan. Karena manusia ciptaan Allah, maka hidup manusia pertama-tama tergantung dari Allah, dari sabda Allah. Diciptakan adalah disabdakan. Untuk hidup di dunia ini memang manusia membutuhkan makanan (roti atau nasi). Tetapi manusia mau hidup abadi, maka manusia membutuhkan sabda Allah, karena sabda Allah itulah yang abadi. Karena hidup di dunia ini akan kita tinggalkan, jikalau mau hidup abadi, manusia harus melepaskan kelekatannya pada yang duniawi, pada makanan yang duniawi. Manusia tidak dapat mengabadikan yang duniawi, yang akan binasa. Karena itu rasul Paulus mengatakan : “Sabda itu dekat padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu….. Sebab jika kamu mengakui dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan”. Diselamatkan ialah hidup dan hidup abadi, berarti kembali kepada Allah, Sang Pemilik, karena manusia sudah tidak mungkin menyelamatkan diri. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan, yaitu menyatukan diri kembali dengan manusia, Immanuel, Allah beserta kita. Allah mengampuni dosa manusia.

Maka bila manusia itu dikatakan kembali kepada Allah, bertobat, itu berarti manusia menyiapkan diri sebagai yang pantas dipersatukan dengan Allah. Itu berarti manusia melepaskan diri dari segala kelekatannya pada yang duniawi. Karena selama di dunia itu semua yang duniawi itu masih dibutuhkan, tetapi hanya untuk hidup di dunia ini, maka melepaskan kelekatan pada yang duniawi itu diungkapkan dengan puasa dan pantang. Kebutuhan yang duniawi hanya dijadikan tanda akan kebutuhan yang sejati, yaitu sabda Allah. Disitulah bedanya makna makan bagi manusia dan bagi hewan. Manusia makan karena mencintai hidup dan hidup abadi, bukan semata-mata mencari kepuasan akan rasa lapar, yang hanya untuk hidup duniawi.

Maka bila manusia itu dikatakan kembali kepada Allah, bertobat, itu berarti manusia menyiapkan diri sebagai yang pantas dipersatukan dengan Allah. Itu berarti manusia melepaskan diri dari segala kelekatannya pada yang duniawi. Karena selama di dunia itu semua yang duniawi itu masih dibutuhkan, tetapi hanya untuk hidup di dunia ini, maka melepaskan kelekatan pada yang duniawi itu diungkapkan dengan puasa dan pantang. Kebutuhan yang duniawi hanya dijadikan tanda akan kebutuhan yang sejati, yaitu sabda Allah. Disitulah bedanya makna makan bagi manusia dan bagi hewan. Manusia makan karena mencintai hidup dan hidup abadi, bukan semata-mata mencari kepuasan akan rasa lapar, yang hanya untuk hidup duniawi.

Hal itu telah dipralambangkan pada Kitab Suci. Selama dalam perjalanan keluar dari Mesir umat Allah diberi makan manna oleh Allah, tetapi setelah sampai di tanah yang dijanjikan mereka harus mengerjakan tanahnya untuk memperoleh kebutuhan hidupnya, yang tetap diakui sebagai pemberian Allah.“Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan kepadaku, ya Tuhan”. Pengakuan bahwa segala hasil bumi adalah pemberian Allah, adalah tanda pengakuan bahwa hidupnya juga dari Allah.

Sadarkah kita, bahwa puasa dan pantang justru mau memberi makna ‘makan’ kita sebagai manusia yang berbeda dengan makna makan hewan sebagai hewan?

St. Sutopanitro, Pr

Advertisements
%d bloggers like this: